Menjadi Keluarga Pilihan Allah

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. (QS. Fathir : 29-30)

daidwijatmiko.com – Ada banyak keluarga di dunia ini. Keluarga karena hubungan darah. Keluarga karena perkawinan. Keluarga karena persahabatan. Ada pula keluarga karena kesamaan pekerjaan, organisasi, bahkan kesamaan kepentingan.

Namun, pernahkah kita membayangkan menjadi bagian dari keluarga Allah?

Tentu bukan keluarga dalam pengertian biologis. Allah Mahasuci dari segala sifat makhluk. Ini adalah kemuliaan spiritual bagi manusia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian terpenting dalam kehidupannya.

Rasulullah SAW memberikan kabar yang luar biasa. Dari Anas bin Malik, beliau bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟

قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Hadis ini menarik. Sebab, kemuliaan manusia ternyata tidak selalu ditentukan oleh jabatan, kekayaan, gelar akademik, atau banyaknya pengikut di media sosial.

Ada jalan istimewa untuk mendapatkan kemuliaan itu: menjadi ahli Al-Qur’an.

Tetapi jangan buru-buru merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Allah hanya karena memiliki mushaf mahal di rak rumah. Apalagi mushaf itu lebih sering menjadi penghias lemari daripada dibaca.

Al-Qur’an bukan pajangan. Ia adalah petunjuk kehidupan.

Membaca Saja Belum Cukup

Kita sering menyaksikan pemandangan yang menyejukkan. Anak-anak mengaji di masjid. Orang tua membaca Al-Qur’an selepas Subuh. Ada yang rutin mengikuti tadarus. Ada pula yang menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dalam waktu tertentu.

Semua itu baik. Bahkan sangat baik.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada orang yang membacanya pada hari kiamat. (HR. Muslim).

Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: setelah membaca Al-Qur’an, apakah perilaku kita semakin baik?

Jangan sampai lidah fasih membaca ayat, tetapi masih ringan menyakiti sesama. Tajwidnya benar, tetapi lisannya gemar menyebarkan fitnah. Hafal banyak surah, tetapi amanah sering dilanggar.

Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti di tenggorokan. Ia harus turun ke hati, kemudian terlihat dalam tindakan.

Kalau membaca Al-Qur’an membuat seseorang semakin sombong, mudah menghakimi, dan merasa paling benar, ada sesuatu yang perlu diperiksa dalam cara kita berinteraksi dengan kitab suci.

Belajar dan Mengajarkan: Jalan Kemuliaan

Ada kabar baik bagi mereka yang belum mahir membaca Al-Qur’an.

Tidak perlu minder. Tidak perlu malu. Bahkan orang yang terbata-bata tetap mendapatkan keistimewaan apabila bersungguh-sungguh mempelajarinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Perhatikan. Nabi tidak mengatakan sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling kaya, paling terkenal, atau paling tinggi jabatannya.

Tetapi mereka yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.

Di sinilah pendidikan Islam menemukan ruhnya. Guru bukan sekadar orang yang menyampaikan materi. Ia juga penjaga nilai. Orang tua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan sekolah anak. Mereka juga bertanggung jawab mengenalkan kalam Allah sejak dini.

Sekolah yang hebat bukan semata-mata sekolah dengan gedung megah, fasilitas modern, dan prestasi akademik berderet. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang mampu mendekatkan peserta didiknya kepada Allah, membangun akhlak, dan menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

Begitu pula guru. Mengajarkan satu ayat dengan kesabaran bisa menjadi investasi akhirat yang nilainya tidak bisa dihitung dengan angka sertifikasi maupun tunjangan profesi.

Jangan Jadikan Al-Qur’an Tamu di Rumah Sendiri

Ada ironi dalam kehidupan modern. Kita bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar telepon genggam. Membaca berita, menonton video, mengikuti percakapan, dan menggulir media sosial tanpa terasa waktu berlalu.

Tetapi ketika diminta menyediakan waktu lima belas menit untuk membaca Al-Qur’an, rasanya berat sekali.

Aneh, bukan?

Kita rajin mengisi daya baterai telepon genggam agar tidak kehabisan energi. Tetapi lupa mengisi energi spiritual dengan membaca firman Allah.

Kita khawatir tertinggal informasi terbaru, tetapi tidak terlalu khawatir tertinggal petunjuk kehidupan.

Karena itu, mari mengubah kebiasaan. Tidak harus langsung satu juz sehari. Mulailah dengan beberapa ayat. Baca terjemahannya. Pelajari maknanya. Kemudian praktikkan dalam kehidupan.

Ayah membaca Al-Qur’an. Ibu mendampingi anak. Anak-anak belajar mengaji. Rumah menjadi tempat tumbuhnya tradisi kebaikan.

Al-Qur’an tidak boleh menjadi tamu yang hanya hadir ketika Ramadan, acara khataman, atau ketika seseorang meninggal dunia. Ia harus menjadi sahabat setiap hari.

Kemuliaan yang Tidak Bisa Dibeli

Pada akhirnya, menjadi keluarga Allah bukanlah gelar yang bisa dicetak di kartu nama. Bukan pula predikat yang cukup diumumkan melalui spanduk dan media sosial.

Ia adalah perjalanan panjang. Membaca, belajar, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan.

Kita mungkin belum lancar membaca. Tidak masalah. Teruslah belajar. Kita mungkin belum hafal banyak surah. Tidak masalah. Teruslah menghafal. Kita mungkin belum mampu mengajarkan Al-Qur’an. Mulailah dengan memberikan teladan.

Sebab, dunia boleh memberikan penghargaan kepada orang-orang berprestasi. Tetapi kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh iman, ketakwaan, dan amal saleh.

Mari bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak waktu yang kita berikan kepada Al-Qur’an hari ini?

Jangan sampai kita begitu sibuk mencari tempat terhormat di hadapan manusia, tetapi lupa membangun kedudukan mulia di hadapan Allah

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer