daidwijatmiko.com – Hidup seorang muslim sesungguhnya tidak pernah lepas dari panggilan Allah SWT.
Panggilan itu tidak selalu hadir dalam bentuk suara. Ia bisa datang melalui kewajiban, kesempatan beribadah, hingga batas akhir kehidupan.
Ada tiga panggilan Allah yang patut direnungkan: sholat, Baitullah, dan kematian.
Panggilan pertama adalah sholat.
Setiap hari, azan berkumandang lima kali, mengajak manusia meninggalkan sejenak urusan dunia untuk menghadap Allah. Namun, panggilan terdengar justru kerap ditunda.
Kesibukan bekerja, berdagang, belajar, atau menikmati hiburan sering membuat sholat kehilangan prioritas. Padahal, sholat merupakan ibadah utama yang menjadi penopang kehidupan muslim.
Ketika azan terdengar, pertanyaan terpenting bukan apakah kita sibuk, melainkan apakah kita bersedia berhenti untuk memenuhi panggilan-Nya. Di situlah ketundukan diuji.
Panggilan kedua adalah Baitullah, yakni kesempatan menunaikan haji atau umrah.
Tidak semua orang yang memiliki kemampuan finansial otomatis dapat segera berangkat.
Ada yang harus menunggu antrean, terkendala kesehatan, atau menghadapi berbagai keadaan.
Karena itu, ketika kesempatan menuju Tanah Suci terbuka, hendaknya dipandang sebagai nikmat dan amanah.
Berangkat ke Baitullah bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi momentum memperkuat iman, memperbanyak taubat, dan mendekatkan diri kepada Allah. Kerinduan ke Tanah Suci seharusnya melahirkan perubahan: ibadah lebih tertib, hati lebih lembut, dan kepedulian kepada sesama semakin kuat.
Panggilan ketiga adalah kematian.
Inilah panggilan yang pasti datang kepada setiap manusia. Al-Qur’an menegaskan, “Kullu nafsin dzā`iqatul maut” — setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.
Tidak ada yang mengetahui kapan waktunya. Karena itu, bekal terbaik bukanlah sekadar harta, jabatan, atau popularitas, melainkan amal saleh. Setiap hari merupakan kesempatan menyiapkan jawaban.
Menjaga lisan, membantu orang lain, bersedekah, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki hubungan keluarga dapat menjadi bagian dari bekal tersebut.
Tiga panggilan tersebut sejatinya menjadi pengingat agar manusia tidak terlena.
Jawablah panggilan sholat dengan segera, sambutlah kesempatan menuju Baitullah dengan syukur, dan persiapkan panggilan kematian dengan memperbanyak amal kebaikan.
Semoga ketika panggilan terakhir datang, kita berada dalam keadaan husnul khatimah.