daidwijatmiko.com – Pernahkah kita bertanya, sebenarnya ke mana perjalanan hidup ini akan berakhir?
Kita sibuk mengejar karier, mengumpulkan harta, membangun rumah, dan merancang masa depan.
Namun, pernahkah kita menyiapkan bekal untuk perjalanan yang pasti datang: kematian dan kehidupan akhirat?
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 64:
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa dunia bukan tujuan akhir.
Dunia adalah tempat menanam amal, sedangkan akhirat menjadi tempat mempertanggungjawabkan apa yang telah kita kerjakan.
Tiga konsep perjalanan menuju Allah, yakni syariat, tarekat, dan hakikat. Ketiganya bukan jalan yang harus dipertentangkan, melainkan satu kesatuan dalam perjalanan spiritual seorang Muslim.
Syariat adalah menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Kita mendirikan salat, berpuasa, menunaikan zakat, menjaga kejujuran, serta memenuhi hak sesama. Inilah fondasi perjalanan seorang hamba.
Tarekat mengajarkan kesungguhan dalam menempuh jalan ketaatan.
Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan melatih hati agar ikhlas, membiasakan diri berbuat baik, dan berhati-hati terhadap perkara yang menjerumuskan pada dosa.
Sementara itu, hakikat mengarahkan kita untuk memahami kedalaman makna ibadah, sehingga ketaatan melahirkan ketulusan, kerendahan hati, dan akhlak mulia.
Semua itu tetap berpijak pada Al-Qur’an dan sunah, bukan pada pengakuan spiritual semata.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Niat yang lurus harus diwujudkan melalui amal yang benar.
Jalan akhirat tidak hanya kita tempuh di masjid. Ia juga terbentang di rumah, sekolah, tempat kerja, dan tengah masyarakat.
Mendidik anak dengan kasih sayang, mencari nafkah halal, membantu tetangga, serta menjaga lisan dapat menjadi ladang pahala ketika dilakukan dengan ikhlas sesuai tuntunan agama.
Maka, jangan menunggu tua untuk bertobat.
Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah. Mulailah hari ini, dari salat yang dijaga, hati yang dibersihkan, dan kebaikan yang ditunaikan.
Sebab, perjalanan menuju akhirat dimulai sejak kita hidup di dunia. Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk pulang kepada-Nya?