Khutbah Jumat Dakwah Merangkul Bukan Memukul

Dakwah keislaman kita adalah merangkul, bukan memukul. Karena hakikat berdakwah adalah mengajak umat ke jalan kebaikan sesuai akhlak mulia Rasulullah saw
Masjid Nabawi: Satu kali sholat wajib atau sunnah di Masjid Nabawi bernilai 1.000 kali lipat dibandingkan sholat di masjid biasa (selain Masjidil Haram)

daidwijatmiko.com – KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، وَكَفَى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا.

اَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa bukan hanya rajin ke masjid, bukan hanya panjang bacaan salatnya, bukan hanya fasih lidahnya membaca ayat-ayat Allah.

Tetapi takwa juga terlihat dari bagaimana kita memperlakukan sesama manusia.

Orang yang rajin ibadah, tetapi lisannya menyakiti tetangga, perlu memperbaiki ibadahnya.

Orang yang pandai berbicara agama, tetapi gemar merendahkan saudaranya, perlu belajar kembali tentang akhlak Rasulullah.

Jamaah sekalian!

Hari ini kita hidup di zaman yang luar biasa.

Dakwah ada di mana-mana. Di masjid ada dakwah. Di televisi ada dakwah. Di YouTube ada dakwah. Di TikTok ada dakwah. Bahkan di grup WhatsApp keluarga pun ada dakwah.

Kadang-kadang belum sempat membaca basmalah, sudah muncul kiriman ceramah lima menit.

Belum selesai sarapan, sudah ada sepuluh video nasihat.

Tetapi pertanyaannya: apakah semakin banyak dakwah, semakin damai kehidupan kita?

Apakah semakin banyak orang berbicara agama, semakin santun perilaku kita?

Atau justru sebaliknya?

Sesama muslim saling mencela. Sesama pengurus masjid saling curiga. Sesama organisasi Islam saling menyalahkan. Sesama pendakwah saling membongkar kekurangan.

Astaghfirullah!

Jangan sampai agama yang diturunkan Allah untuk menjadi rahmat, justru kita tampilkan seolah-olah menjadi sumber pertengkaran.

Padahal Allah SWT berfirman:

اُدْعُ إِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

(QS. An-Nahl: 125)

Perhatikan ayat ini!

Allah tidak mengatakan, ajaklah manusia dengan hinaan.

Allah tidak mengatakan, ajaklah manusia dengan makian.

Allah tidak mengatakan, kalau orang tidak sepaham denganmu, jatuhkan kehormatannya!

Tidak!

Allah memerintahkan kita menggunakan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog dengan cara yang terbaik.

Maka tema khutbah kita hari ini adalah:

DAKWAH MERANGKUL, BUKAN MEMUKUL!

1. Dakwah itu membina, bukan menghina

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Coba kita renungkan.

Kalau ada anak kecil belum bisa membaca Al-Qur’an, apa yang kita lakukan?

Kita bimbing.

Kalau ada orang yang belum memahami agama, apa yang kita lakukan?

Kita ajari.

Kalau ada saudara kita yang melakukan kesalahan, apa yang seharusnya kita lakukan?

Kita nasihati.

Jangan justru dihina!

Ingat, orang yang hari ini belum baik, belum tentu besok tetap buruk.

Bisa jadi orang yang hari ini kita cela, besok justru lebih dekat kepada Allah daripada kita.

Karena itu, jangan merasa diri paling suci.

Jangan merasa diri paling benar.

Jangan merasa bahwa surga itu sudah menjadi milik kelompok kita sendiri.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, kalau tidak bisa memberikan nasihat yang baik, lebih baik diam.

Jangan sampai jempol kita lebih cepat daripada akal sehat kita!

Jangan sampai mulut kita lebih tajam daripada pisau dapur!

2. Dakwah itu mendidik, bukan membidik

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada orang berdakwah, tetapi sepertinya sedang mencari sasaran tembak.

Begitu naik mimbar, yang disindir tetangganya.

Yang disindir pengurus masjidnya.

Yang disindir organisasi lain.

Yang disindir orang yang berbeda pilihan.

Akhirnya, jamaah datang ingin mendapatkan ilmu, pulang membawa sakit hati.

Lho, ini pengajian atau arena pertandingan?

Dakwah itu mendidik, bukan membidik.

Dakwah itu mengobati, bukan melukai.

Dakwah itu mengajar, bukan menghajar.

Dakwah itu menasihati, bukan mencaci maki.

Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa.

Suatu ketika, seorang Arab Badui melakukan tindakan yang tidak pantas di masjid. Para sahabat marah dan hendak menghentikannya dengan keras. Namun Rasulullah SAW memerintahkan agar orang tersebut tidak diperlakukan secara kasar.

Setelah itu, Rasulullah memberikan penjelasan dengan lembut.

Perhatikan!

Kesalahan diperbaiki, tetapi kehormatan manusia tetap dijaga.

Inilah pendidikan.

Bukan membiarkan kesalahan, tetapi memperbaiki kesalahan dengan cara yang benar.

3. Dakwah itu menyejukkan, bukan memojokkan

Jamaah sekalian,

Ada satu hal yang harus kita pahami.

Tidak semua orang memiliki tingkat pemahaman agama yang sama.

Ada yang sudah belajar bertahun-tahun.

Ada yang baru belajar salat.

Ada yang baru mulai mengenal Al-Qur’an.

Ada yang baru saja meninggalkan kebiasaan buruk.

Maka jangan kita perlakukan semuanya dengan cara yang sama.

Orang yang baru belajar agama membutuhkan pendampingan, bukan penghakiman.

Orang yang sedang berjuang meninggalkan maksiat membutuhkan dukungan, bukan cemoohan.

Orang yang berbeda pendapat membutuhkan dialog, bukan permusuhan.

Rasulullah SAW bersabda:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah yang berbahagia,

Kalau orang datang ke masjid merasa diterima, insyaallah ia akan betah.

Kalau orang datang ke pengajian merasa dihargai, insyaallah ia akan kembali.

Tetapi kalau baru datang sekali sudah dihakimi, baru belajar sudah dimarahi, jangan heran kalau akhirnya menjauh.

Jangan sampai masjid kita megah bangunannya, tetapi sempit penerimaannya.

Jangan sampai pengeras suara kita keras, tetapi kelembutan hati kita justru hilang.

4. Dakwah itu menyatukan, bukan memecah belah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Islam mengajarkan persatuan.

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”

(QS. Ali Imran: 103)

Perhatikan!

Allah mengatakan جَمِيْعًا, semuanya.

Bukan sebagian.

Bukan kelompok tertentu.

Bukan hanya orang yang sama pendapat dengan kita.

Kita boleh berbeda organisasi, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.

Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan persahabatan.

Kita boleh berbeda pendapat dalam masalah fikih, tetapi jangan sampai berbeda hati sebagai sesama muslim.

Jamaah sekalian!

Kalau ada orang membangun masjid, dukung!

Kalau ada orang membangun sekolah Islam, dukung!

Kalau ada orang mengembangkan pendidikan Al-Qur’an, dukung!

Kalau ada orang membantu fakir miskin, dukung!

Kalau ada orang berdakwah dengan cara yang baik, dukung!

Jangan justru sibuk mencari kekurangannya.

Jangan sampai kita tidak mampu membangun, tetapi sangat bersemangat meruntuhkan.

Tidak mampu menyatukan, tetapi sangat pandai memecah belah.

Tidak mampu memberikan solusi, tetapi paling cepat memberikan kritik.

Ingat, dakwah itu menawarkan solusi, bukan sekadar mengumbar janji.

Dakwah itu menghadapi kenyataan, bukan meratapi keadaan.

Dakwah itu bergerak cepat dalam kebaikan, bukan sibuk berdebat tanpa akhir.

5. Dakwah itu mengikuti cara Nabi, bukan kemauan sendiri

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Inilah yang paling penting.

Dakwah bukan sekadar persoalan apa yang kita sampaikan, tetapi juga bagaimana cara kita menyampaikannya.

Kebenaran harus disampaikan dengan cara yang benar.

Niat baik harus diwujudkan melalui perilaku yang baik.

Jangan sampai niatnya berdakwah, tetapi caranya menyakiti.

Jangan sampai ingin membela agama, tetapi akhlaknya justru bertentangan dengan ajaran agama.

Allah SWT berfirman tentang Rasulullah SAW:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

(QS. Ali Imran: 159)

Subhanallah!

Bahkan Allah menjelaskan bahwa kelembutan Rasulullah menjadi sebab orang-orang berada di sekeliling beliau.

Artinya, kekuatan dakwah bukan hanya terletak pada kerasnya suara, tetapi juga pada kemuliaan akhlaknya.

Bukan hanya pada panjangnya ceramah, tetapi pada keteladanan perilakunya.

Bukan hanya pada banyaknya pengikut, tetapi pada banyaknya orang yang berubah menjadi lebih baik.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita ingat beberapa prinsip dakwah:

  • Dakwah itu mencari teman, bukan mencari lawan.

  • Dakwah itu menutup aib dan memperbaikinya, bukan menyebarkan aib.

  • Dakwah itu menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran.

  • Dakwah itu merangkul, bukan memukul.

  • Dakwah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

  • Dakwah itu berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba menjatuhkan.

  • Dakwah itu mengatakan, “Mari bersama-sama menuju kebaikan,” bukan “Kamu harus mengikuti saya!”

Dan yang tidak kalah penting, dakwah bukan hanya di atas mimbar.

Dakwah ada di rumah.

Dakwah ada di sekolah.

Dakwah ada di pasar.

Dakwah ada di kantor.

Dakwah ada di parlemen.

Dakwah ada di media sosial.

Bahkan senyum kita kepada orang lain pun bisa menjadi bagian dari dakwah.

Jangan sampai kita hanya saleh ketika berada di masjid, tetapi berubah ketika berada di pasar.

Jangan sampai kita pandai membaca hadis, tetapi lupa menghormati tetangga.

Jangan sampai kita mengajak orang menuju surga, tetapi perilaku kita membuat orang menjauh dari agama.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad, dengan redaksi yang masyhur)

Maka, mari kita jadikan dakwah sebagai jalan memperbaiki manusia, bukan jalan mempermalukan manusia.

Mari kita jadikan dakwah sebagai sarana menyatukan umat, bukan memecah belah umat.

Mari kita jadikan dakwah sebagai jalan menghadirkan rahmat Allah bagi seluruh alam.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sebelum kita mengakhiri khutbah ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Sudahkah lisan kita menjadi sumber kebaikan?

Sudahkah kehadiran kita membuat orang lain merasa nyaman?

Sudahkah dakwah kita membuat orang semakin dekat kepada Allah?

Atau justru orang semakin menjauh karena perilaku kita?

Jangan sibuk bertanya, siapa yang harus berubah?

Mulailah bertanya: apakah saya sudah berubah?

Jangan sibuk mencari siapa yang salah.

Mulailah memperbaiki diri sendiri.

Sebab dakwah terbesar terkadang bukan apa yang kita ucapkan, melainkan apa yang orang lain saksikan dari perilaku kita.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ أَلْسِنَتَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا.

Ya Allah, perbaikilah hati kami, lisan kami, dan amal perbuatan kami.

Ya Allah, jadikanlah kami pendakwah yang bijaksana, pendidik yang penuh kasih sayang, dan hamba-Mu yang senantiasa menebarkan kebaikan.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat sombong, merasa paling benar, gemar mencela, suka membuka aib, dan senang memecah belah persaudaraan.

اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.

Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukilah kami jalan keselamatan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ،

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer