daidwijatmiko.com – Rasulullah Saw., pernah menyampaikan sebuah peringatan yang sangat dalam maknanya tentang hakikat ketaatan dan keselamatan hidup manusia.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, dari Abu Hurairah ra, Nabi Saw bersabda bahwa seluruh umat beliau akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.
Para sahabat terkejut dan bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Barang siapa yang taat kepadaku, maka ia masuk surga, dan barang siapa yang durhaka kepadaku, maka dialah orang yang enggan.”
Hadis ini menegaskan bahwa surga bukanlah sesuatu yang mustahil diraih, melainkan terbuka luas bagi setiap umat Nabi Muhammad Saw.
Yang menjadi penghalang bukanlah keterbatasan rahmat Allah, tetapi sikap manusia sendiri yang menolak jalan ketaatan.
Enggan masuk surga bukan berarti menolak surga secara lisan, melainkan menolak nilai, aturan, dan tuntunan yang mengantarkan ke sana.
Ketaatan kepada Rasulullah Saw mencakup mengikuti ajaran Islam secara utuh, baik dalam ibadah ritual maupun dalam akhlak sosial.
Shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya harus sejalan dengan kejujuran, amanah, kepedulian, serta menjauhi kezaliman.
Sebaliknya, durhaka kepada Rasulullah Saw dapat terwujud dalam meremehkan sunnah, menolak hukum Allah, atau menjalani kehidupan tanpa peduli halal dan haram.
Dalam kehidupan modern, bentuk “keengganan” sering tersembunyi di balik alasan logis dan pembenaran pribadi.
Ada yang mengaku beriman, tetapi enggan memperbaiki akhlak.
Ada pula yang rajin beribadah, namun lalai menjaga lisan dan perbuatan. Padahal, ketaatan sejati menuntut kesungguhan hati dan konsistensi amal.
Hadis ini seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi setiap Muslim.
Surga bukan sekadar harapan, tetapi tujuan yang memerlukan ikhtiar nyata.
Dengan mengikuti Rasulullah Saw dalam keyakinan, ibadah, dan akhlak, seorang hamba sejatinya sedang melangkah menuju surga.
Sebaliknya, berpaling dari tuntunan beliau berarti memilih jalan keengganan yang merugikan diri sendiri di dunia dan akhirat.
وَ اِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَا لُوْا بَلْ نَـتَّـبِـعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَا نَ الشَّيْطٰنُ يَدْعُوْهُمْ اِلٰى عَذَا بِ السَّعِيْرِ
wa izaa qiila lahumuttabi’uu maaa angzalallohu qooluu bal nattabi’u maa wajadnaa ‘alaihi aabaaa-anaa, a walau kaanasy-syaithoonu yad’uuhum ilaa ‘azaabis-sa’iir
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah!” Mereka menjawab, “Tetapi kami mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami.” Apakah mereka (akan mengikuti) walaupun sebenarnya setan menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-nyala?”
QS. Luqman 31: Ayat 21