daidwijatmiko.com –
Khutbah Pertama
Mukadimah
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُوْلَ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَلآَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْ نَفْسِيْ وَ إِيَّكُمْ بِتَقْوَ اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Shalat Jumat yang Dirahmati Allah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam artian menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu manifestasi takwa yang paling nyata dalam kehidupan sosial adalah dengan menebar kebaikan dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama manusia. Hari ini, khatib mengajak kita semua untuk merenungkan kembali tema penting: “Ayo Berbuat Baik Peduli Manusia.”
Dalil Al-Qur’an dan Hadits Relevan
Allah SWT telah menegaskan pentingnya berbuat baik dalam Al-Qur’an, Surah Al-Qasas ayat 77:
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Tafsir Singkat: Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah mutlak bagi manusia untuk merefleksikan rasa syukur atas segala nikmat yang Allah berikan dengan cara membagikan kebaikan tersebut kepada makhluk lainnya. Berbuat baik (ihsan) di sini mencakup bantuan materi, tenaga, pikiran, hingga sikap ramah yang menenteramkan jiwa sesama.
Sejalan dengan hal tersebut, Rasulullah SAW memberikan panduan moral yang sangat kuat melalui sabdanya:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Artinya: “Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih (Allah). Kasihilah siapapun yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit (para malaikat dan Allah) akan mengasihi kalian.” (HR. Tirmidzi).
Tafsir Singkat: Hadits ini menegaskan hukum kausalitas spiritual (al-jaza’ min jinsil ‘amal): barangsiapa yang menaruh empati dan menolong manusia di bumi, maka Allah akan menurunkan rahmat dan pertolongan-Nya dari langit.
Penjelasan Mendalam: Sejarah, Tujuan, dan Hikmah
Jemaah yang Mulia, Jika kita menengok sejarah singkat peradaban Islam, gerakan peduli manusia bukanlah hal baru. Rasulullah SAW membangun Kota Madinah dengan fondasi kepedulian yang luar biasa melalui peristiwa Muakhat (mempersaudarakan) antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kaum Anshar dengan sukarela membagi rumah, harta, dan ladang mereka demi menopang saudara seagama yang baru berhijrah. Inilah tonggak sejarah aksi kemanusiaan terbesar yang didasari oleh iman.
Tujuan utama dari gerakan “Ayo Berbuat Baik Peduli Manusia” ini adalah untuk mengikis egoisme individu, menegakkan keadilan sosial, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun manusia yang merasa sendirian dalam menghadapi ujian hidup.
Hikmah dan manfaatnya bagi umat Islam se-dunia sangatlah besar:
- Menguatkan Ukhuwah Islamiyah dan Insaniyah: Ketika Muslim di satu belahan bumi tertimpa musibah (kelaparan, perang, atau bencana alam) dan Muslim di belahan bumi lain membantunya, maka runtuhlah batasan sekat geografis. Kita menjadi satu tubuh yang utuh.
- Mendatangkan Keberkahan Global: Kepedulian sosial yang masif akan menurunkan tingkat kriminalitas, kemiskinan, dan keputusasaan, sehingga kedamaian dunia dapat terwujud.
- Pembersih Harta dan Jiwa: Berbagi kebaikan menyucikan hati dari sifat kikir (bukhil) dan penyakit sombong.
Argumen Pendukung Penerapan Kepedulian Manusia
Mengapa program peduli sesama ini sifatnya mendesak (urgens)?
- Pertama, Manusia adalah Makhluk Sosial: Secara fitrah, tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Kebaikan yang kita tanam hari ini kepada orang lain adalah “investasi sosial” yang suatu saat akan kembali kepada kita atau keturunan kita.
- Kedua, Tolok Ukur Kesempurnaan Iman: Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Kepedulian adalah bukti konkret bahwa iman kita tidak hanya berhenti di tenggorokan, tetapi meresap hingga ke tindakan nyata.
Tantangan dan Solusi Potensial
Membumikan gerakan peduli manusia tentu tidak luput dari tantangan, di antaranya:
- Sifat Individualisme Modern: Gaya hidup modern cenderung membuat manusia abai terhadap tetangga atau lingkungan sekitar.
- Skeptisisme dan Krisis Kepercayaan: Banyaknya penyalahgunaan donasi atau bantuan membuat sebagian orang ragu untuk menyalurkan kebaikan.
Sebagai solusi potensial, kita harus:
- Mulai dari Hal Kecil dan Terdekat: Jangan menunggu kaya untuk peduli. Mulailah dengan membantu tetangga sebelah rumah, memberikan senyuman, atau mempermudah urusan orang lain.
- Optimalisasi Lembaga ZISWAF yang Akuntabel: Salurkan kepedulian kemanusiaan yang bersifat global melalui lembaga-lembaga zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang resmi, transparan, dan profesional agar tepat sasaran.
Kesimpulan Khutbah Pertama
بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا اللهُ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ الله لِيْ وَلَكُمْ
Khutbah Kedua
Mukadimah Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، أَمَّا بَعْدُ؛
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ, رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَاْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيْمٌ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمّا يَصِفُونَ. وسَلامٌ عَلى المُرْسَلِينَ. والحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العالَمِينَ.