Puasa yang Tidak Diterima Dengan Sempurna

Jangan Biarkan Puasamu Sia-sia
Tidak ada manusia yang baik-baik saja di dunia ini, semua sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing.

daidwijatmiko.com –

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhori no.1903).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1- Makna zuur pada hadis di atas adalah perkataan dusta. Yang paling parahnya adalah persaksian palsu, yakni persaksian untuk menindas hak orang lain, atau untuk membenarkan yang keliru. Kemudian “mengamalkannya”, maksudnya melakukan tindakan-tindakan runtutan dari perkataan dustanya.
2- Termasuk dalam hal ini, segala macam perbuatan yang menyimpang dari kebenaran; yakni maksiat. Adapun makna tindakan bodoh di sini, adalah bodoh (tidak peduli) terhadap hak sesama. Seperti iri, hasad, menebar kebencian sesama muslim, dll.
3- Ternyata untuk meraih kesempurnaan puasa, tidak cukup hanya dengan meninggalkan makan dan minum saja. Namun harus ada perjuangan meningalkan perbuatan sia-sia dan maksiat. Yang mana hal-hal tersebut akan merusak pahala puasa.
4- Bila puasa sekedar menahan lapar dan dahaga saja, semua orang bisa melakukannya. Tidak yang awam, tidak yang sudah tau agama. Bahkan orang-orang non muslim pun mampu. Namun, puasa lahir dan batin; yakni puasa dari makan minum, dan juga dari perbuatan-perbuatan maksiat yang dapat menodai kesucian hati dan merusak pahala puasa, tak semua orang dapat melakukan. Kecuali mereka yang dirahmati Allah ‘azza wa jalla.
5- Disinilah saudaraku, peluang untuk berlomba-lomba dalam meraih kualitas puasa terbaik. Semakin maksimal seorang hamba meninggalkan perbuatan maksiat saat puasa, semakin baik kualitas puasanya, dan tentu semakin sempurna pahalanya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur’an:

1- Inilah puncak daripada tujuan disyariatkan puasa dan bentuk puasa yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi insan yang bertakwa” (QS. Al- Baqarah: 183).

2- Semakin maksimal seorang hamba meninggalkan perbuatan maksiat saat puasa, semakin baik kualitas puasanya, dan tentu semakin sempurna pahalanya. Dalam Al Quran Allah ‘azza wa jalla selalu memberi motivasi kepada hambaNya dalam hal ini,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah: 148).

SIMPANLAH RAPAT RAPAT

Dalam Islam, menjaga rahasia (menutup aib) adalah bagian dari takwa untuk menjaga kehormatan diri dan menghindari penyakit hati seperti riya’ atau sombong. Hal-hal utama yang harus dirahasiakan meliputi aib/dosa masa lalu, kebaikan/sedekah, keluhan/masalah hidup, amal ibadah (amalan rahasia), dan urusan rumah tangga agar terjaga keberkahannya.

Berikut adalah hal-hal yang harus dirahasiakan dalam hidup menurut Islam:
Aib dan Dosa Masa Lalu: Islam melarang seseorang menceritakan dosa yang telah lampau, terutama jika telah bertaubat. Menceritakan dosa sama dengan meremehkan maksiat dan membuka aib yang sudah ditutup Allah.
Amal Kebaikan dan Sedekah: Menyembunyikan sedekah atau ibadah (seperti shalat tahajud, puasa sunnah) lebih utama agar terhindar dari riya’ dan ikhlas hanya karena Allah.
Keluhan dan Masalah Hidup: Merahasiakan kesusahan, musibah, atau kekurangan hidup agar tidak menimbulkan pandangan kasihan yang berlebihan, fitnah, atau keluhan yang tidak perlu kepada makhluk, melainkan cukup mengadu kepada Allah.
Urusan Rumah Tangga (Aib Pasangan): Hubungan intim dan rahasia di dalam rumah tangga wajib dijaga dan tidak untuk diceritakan kepada orang lain.
Perencanaan (Hajat): Merahasiakan rencana kebaikan atau cita-cita yang belum terwujud agar terhindar dari hasad (iri dengki) orang lain (berdasarkan hadis: “Bantulah kesuksesan hajat-hajat kalian dengan merahasiakannya”).
Aib Orang Lain (Tajassus): Menutup aib saudara sesama muslim, karena siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.

Tujuan utama merahasiakan hal-hal tersebut adalah untuk menjaga hati tetap ikhlas, menjaga kehormatan, dan membangun kualitas hubungan dengan Allah tanpa campur tangan penilaian manusia.

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer