daidwijatmiko.com – Masjid dalam sejarah Islam bukan sekadar tempat ibadah ritual. Sejak masa Rasulullah SAW, masjid berfungsi sebagai pusat peradaban: tempat shalat, pendidikan, musyawarah, pembinaan kader, hingga penguatan ekonomi umat.
Itulah makna sesungguhnya dari menghafirkan masjid—menjadikan masjid hidup, penuh denyut dakwah, bukan sekadar bangunan megah namun sepi dari aktivitas.
Di lingkungan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah dan gerakan Islam lainnya, masjid harus ditempatkan sebagai poros kegiatan. Ortom seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, IPM, IMM, hingga Tapak Suci memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan masjid, bukan hanya memakainya saat acara tertentu.
Masjid sebagai Pusat Kaderisasi
Rasulullah SAW menjadikan Masjid Nabawi sebagai pusat pembinaan sahabat. Dari masjid lahir kader-kader tangguh seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, hingga generasi muda seperti Usamah bin Zaid dan Abdullah bin Umar.
Allah SWT berfirman dalam At-Taubah ayat 18:
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah…”
Ayat ini menegaskan bahwa memakmurkan masjid adalah ciri kader sejati. Ortom Muhammadiyah dan gerakan Islam seharusnya menjadikan masjid sebagai “sekolah kader” tempat belajar, berdiskusi, melatih kepemimpinan, bahkan mengasah seni dakwah.
Menghidupkan Masjid dengan Aktivitas Ortom
Menghafirkan masjid berarti menjadikannya tempat:
-
Pembinaan Iman dan Ilmu – Kajian rutin ortom ditempatkan di masjid, agar generasi muda terbiasa tumbuh dengan suasana ibadah.
-
Pelatihan Kepemimpinan – Rapat, musyawarah, dan diskusi ortom bisa diselenggarakan di serambi masjid, melatih budaya syura dalam bingkai ukhuwah.
-
Pembinaan Sosial-Ekonomi – Masjid menjadi basis gerakan sosial: pengumpulan zakat, santunan dhuafa, hingga pelatihan ekonomi umat.
-
Pusat Kreativitas Dakwah – Generasi muda ortom dapat menyalurkan bakat seni islami, literasi dakwah digital, hingga kegiatan olahraga yang bernuansa islami dengan masjid sebagai pusat orientasi.
Tantangan dan Harapan
Sayangnya, banyak masjid saat ini hanya dipandang sebagai tempat shalat lima waktu. Padahal, jika ortom berani hadir secara konsisten, masjid akan hidup dengan generasi muda. Tantangannya adalah membangun komunikasi dengan takmir, menumbuhkan rasa memiliki, serta menyiapkan program yang menarik generasi muda agar betah berkegiatan di masjid.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, (salah satunya adalah) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (HR Bukhari-Muslim)
Hadis ini menjadi spirit bagi ortom: membentuk pemuda yang akrab dengan masjid, bukan asing darinya.
Menghadirkan masjid dalam ortom berarti mengembalikan masjid pada fungsinya: pusat peradaban Islam. Jika ortom mampu menjadikan masjid sebagai pusat kaderisasi, maka lahir generasi yang kuat iman, luas wawasan, dan siap berjuang untuk umat.
Karena itu, ortom perlu terus bergerak: tidak hanya berkegiatan di aula, hotel, atau ruang rapat modern, tetapi kembali menghidupkan masjid sebagai jantung pergerakan. Di situlah keberkahan akan hadir, dan ortom akan melahirkan kader yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bersahaja dan dekat dengan Allah SWT.