Hidup Tenang Tanpa Riba

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1598).
Merdeka dari Riba Agar Hidup Lebih Berkah

daidwijatmiko.com – Setiap orang tentu ingin hidup sejahtera, terbebas dari beban hutang, dan penuh keberkahan.

Namun, di tengah modernitas, banyak orang terjebak pada praktik riba, bunga pinjaman yang justru mencekik dan merusak tatanan kehidupan.

Padahal, Allah telah memberikan peringatan tegas dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ (٢٧٨) فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (٢٧٩)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa riba, jika kamu orang beriman. Maka jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menzalimi dan tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 278–279).

Ayat ini menunjukkan bahwa riba bukanlah perkara sepele. Allah bahkan mengancam orang yang tetap menjalankannya dengan “perang” dari Allah dan Rasul-Nya. Bayangkan, jika manusia biasa saja tidak sanggup menghadapi peperangan, bagaimana mungkin kita berani menantang perang dari Allah?

Praktik riba memang sering terlihat sepele: pinjam sedikit, kembalikan lebih. Namun dampaknya begitu dalam. Riba membuat seseorang sulit keluar dari jeratan hutang, merusak hubungan sosial, bahkan menumbuhkan kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin.

“Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan adalah seperti seorang laki-laki berzina dengan ibunya sendiri.” (HR. Ibnu Majah).

Islam tidak hanya melarang, tetapi juga memberikan solusi. Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan agar kita mengambil pokok harta saja, tanpa tambahan. Artinya, Islam mendorong keadilan: tidak menzalimi dan tidak dizalimi.

Di era sekarang, banyak alternatif sistem keuangan syariah yang bisa menjadi jalan keluar, seperti koperasi syariah, bank syariah, atau akad-akad Islami seperti murabahah, mudharabah, dan musyarakah. Semua ini bertujuan agar transaksi tetap berjalan sehat tanpa menjerumuskan ke dalam dosa riba.

Hidup tanpa riba mungkin terasa lebih sulit di awal, karena godaan kemudahan pinjaman berbunga begitu besar. Namun, dengan keyakinan dan keteguhan hati, hidup akan jauh lebih tenang dan penuh keberkahan. Ingatlah pesan Allah dalam Al-Baqarah 278–279: tinggalkan riba jika benar-benar beriman, karena keberanian menolak riba adalah tanda ketakwaan sejati.

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer