Kurban Menguji Kesabaran dan Keimanan

Kurban Menguji Kesabaran dan Keimanan. Hari Raya Idul Adha yang jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah memiliki kisah yang begitu kuat tentang keimanan sepasang ayah dan anak. Kita sadar dan faham bagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Keduanya mengajarkan kita sebagai umat manusia untuk merelakan sesuatu yang paling dicintai karena cinta yang kekal dan utama adalah kepada Allah SWT. Kita  diajarkan untuk mematuhi perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Saat Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya, dan dilakukan olehnya, itu merupakan bentuk ketaatannya kepada perintah Allah. Peristiwa itu pula yang mendasari ibadah kurban yang dilakukan umat muslim hingga kini.

Perintah bagi umat Islam untuk berkurban ini tertera dalam Al-Qur`an surah Al-Hajj ayat 34: “Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”

Pada surah Al-Kautsar juga jelas perintah Allah untuk berkurban. “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar: 1-2).

Dalam surah Ash-Shaffat ayat 102 juga dikisahkan tentang Nabi Ibrahim yang bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih putranya yaitu, Nabi Ismail. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insha Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”

Setiap kita adalah pemimpin, dan pemimpin yang baik harus memiliki kualitas, kapasitas, dan integritas, sebagaimana yang telah diatur oleh Allah dalam Al Quran. Maka menjadi wajar, apabila Allah memberikan perhatian khusus kepada manusia sebagai nabi, yakni, penerima wahyu untuk dirinya sendiri, serta penerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umat manusia lainnya, yang dalam kitab suci Al Quran disebut dengan rasul.

Dalam literatur keagamaan, jumlah nabi seluruhnya mencapai 124 ribu, 313 di antaranya merupakan nabi dan rasul, dan sebanyak 25 di antara nabi dan rasul ini disebutkan dalam teks Al Quran. Dua di antaranya adalah mendapatkan sebutan suri tauladan yang baik (uswatun hasanah), yakni Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapaknya para nabi atau ‘abu al an-biya’. Nabi-nabi yang diutus sebelum Nabi Ibrahim itu rata-rata tidak berjumpa dan tidak bertemu dalam satu silsilah keturunan, atau dari orang tua yang sama, meskipun semuanya merupakan anak cucu Nabi Adam.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَ خْبَـتُوْۤا اِلٰى رَبِّهِمْ ۙ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَـنَّةِ ۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
“Sesungguhnya manusia-manusia yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan merendahkan diri kepada Tuhan, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” QS. Hud 11: Ayat 23

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصَا رَ وَ مَنْ يُّخْرِجُ الْحَـيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَـيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَ مْرَ ۗ فَسَيَـقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚ فَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ
“Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa ?””

فَذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمُ الْحَـقُّ ۚ فَمَا ذَا بَعْدَ الْحَـقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۚ فَاَ نّٰى تُصْرَفُوْنَ
“Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling ?”

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِ يْمَا نِهِمْ ۚ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَ نْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ
“Sesungguhnya manusia-manusia yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

دَعْوٰٮهُمْ فِيْهَا سُبْحٰنَكَ اللّٰهُمَّ وَ تَحِيَّـتُهُمْ فِيْهَا سَلٰمٌ ۚ وَاٰ خِرُ دَعْوٰٮهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
“Doa mereka di dalamnya, ialah “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah, “Salaam”. Dan penutup doa mereka ialah, “Alhamdulillahi Rabbilalamin.” QS. Yunus 10: Ayat 9,10

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer