daidwijatmiko.com – Pentingnya muhasabah (introspeksi) dan semangat hijrah untuk meningkatkan amal ibadah.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُحَرَّمَ أَوَّلَ الشُّهُورِ، وَسَهَّلَ لَنَا بِهِ طَرِيقَ السُّرُورِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْعَزِيزُ الْغَفُورُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي أَنْقَذَنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْحُضُورِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ، وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang mengatur pergantian siang dan malam.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, Khatib berwasiat kepada diri Khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Yakni dengan bersungguh-sungguh menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di mana pun dan kapan pun kita berada.
Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia
Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun yang lama dan memasuki Tahun Baru Hijriyah. Pergantian tahun ini bukanlah sekadar perubahan waktu atau pergantian angka di kalender, melainkan sebuah momentum refleksi bagi kita semua.Mari kita gunakan momen ini untuk melakukan evaluasi atau muhasabah terhadap apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Berapa banyak kebaikan yang telah kita kerjakan? Dan seberapa banyak pula dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini adalah pedoman bagi setiap Muslim untuk selalu melakukan introspeksi diri secara berkala, terlebih saat menyambut lembaran baru dalam hidup.
Hadirin Sidang Jumat yang dirahmati Allah
Selain bermuhasabah, menyongsong Tahun Baru Hijriyah juga sangat lekat dengan semangat hijrah. Hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat dari Makkah ke Madinah bukanlah sekadar pelarian atau perpindahan tempat semata, melainkan perpindahan dari kondisi yang kurang baik menuju tatanan kehidupan yang lebih baik, lebih taat, dan lebih diridhai oleh Allah Ta’ala.
Semangat hijrah di era modern ini dapat kita implementasikan dengan tiga cara utama:
* 1. Hijrah I’tiqodiyyah: Memperkuat akidah dan keyakinan kita hanya kepada Allah Ta’ala.
* 2. Hijrah Fikriyyah: Memperbaiki cara pandang kita agar senantiasa sejalan dengan tuntunan syariat Islam.
* 3. Hijrah ‘Amaliyyah: Meninggalkan kebiasaan buruk, maksiat, dan kelalaian, lalu beralih kepada amal shalih dan ketaatan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim:
اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ السَّيِّئَاتِ
Artinya:
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang mukmin adalah seseorang yang manusia merasa aman dari darah dan harta mereka. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan keburukan-keburukan.”
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah.
Hadits di atas menegaskan bahwa hijrah yang hakiki adalah kemampuan kita untuk meninggalkan segala perbuatan dosa, maksiat, serta perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Oleh karena itu, mari kita jadikan pergantian tahun Hijriyah ini sebagai titik tolak untuk memperbaiki kualitas diri, baik dalam habluminallah (hubungan dengan Allah) maupun habluminannas (hubungan dengan sesama manusia).
Marilah kita bulatkan tekad agar hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kekuatan, hidayah, dan taufik untuk terus berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik, diampuni segala dosa kita yang telah lalu, dan diberikan keberkahan di tahun yang akan datang.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.