Mengorbankan Ego Demi Rida Allah Swt

Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya

daidwijatmiko.com –

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ                                      

اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُه، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَه، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَه. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن. أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْن، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وقال أيضا: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

اللهُ أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullāh,

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT. yang masih memberi kita kesempatan berjumpa dengan hari yang mulia, hari raya Idul Adha yaitu hari berkurban, hari mengaplikasikan rasa keikhlasan dan ketaatan kita kepada Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah dan terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW. beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,

Hari ini kita berkumpul dalam suasana takbir yang menggema. Namun di balik gema itu, kehidupan sedang tidak baik-baik saja. Krisis ekonomi dan berbagai bentuk krisis yang lain masih melanda  seperti  konflik kemanusiaan, bencana datang silih berganti, dan kehidupan terasa semakin tidak pasti. Sebagian dari kita mungkin juga sedang memikul ujian pribadi: kesulitan rezeki, kesehatan yang menurun, keluarga yang diuji, atau hati yang sedang gelisah. Pertanyaannya: Apakah ujian ini tanda peringatan, atau jalan menuju keberkahan? Jawabannya tidaklah hanya bisa sederhana sebagaimana hitam di atas putih. Tidak setiap kesulitan adalah peringatan, dan tidak setiap kemudahan adalah tanda ridha. Semuanya bergantung pada bagaimana hati ini menyikapinya.

Satu  hal yang harus kita ingat adalah bahwa dunia memang tidak pernah dijanjikan sebagai tempat yang abadi dan sempurna. Dunia adalah tempat ujian. Tempat di mana kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti, tempat di mana kita diuji dengan apa yang kita cintai dan juga dengan apa yang kita takuti.

Allah SWT. berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ (البقرة:155)

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar (QS. Al-Baqarah: 155)

اللهُ أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,

Momen Idul Adha mengajak kita merenungi kisah agung Nabi Ibrahim ‘alaihissalām, seorang hamba pilihan yang diuji bukan dengan perkara ringan, akan tetapi diuji dengan sesuatu yang paling ia cintai dalam hidupnya, ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail ‘alaihissalām seorang anak yang hadir setelah penantian panjang dan sangat diidamkan. Sungguh, ini bukan ujian biasa. Ini adalah ujian yang melampaui nalar manusia, ujian yang tidak sekadar menguji logika, tetapi menembus relung hati yang paling dalam.

Namun yang lebih menakjubkan bukan hanya beratnya ujian itu, melainkan bagaimana mereka menyikapinya. Seorang ayah yang taat tanpa ragu dan seorang anak yang patuh tanpa gentar, sebagaimana difirmankan Allah SWT.:

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ (الصافات: 102)

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)

Di sinilah kita belajar, bahwa ujian bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk meninggikan derajat.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,

Untuk menghadapi berbagai krisis dan ujian kehidupan, Idul Adha telah mengajarkan kepada kita tiga spirit penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam menjalani kehidupan ini; bukan sekadar pelajaran sejarah,
tetapi nilai hidup yang harus kita hadirkan dalam realitas hari ini—
di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.

Pertama: Spirit Ketaatan Total kepada Allah Swt.

Idul Adha mengajarkan bahwa ketaatan sejati tidak menunggu saat mudah.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak menunda, tidak menawar, dan tidak mencari alasan. Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘alaihimassalam mengajarkan bahwa ketaatan sejati adalah ketaatan yang tanpa syarat dan tanpa penundaan. Di dalam Al-Qur’an juga dijelaskan salah satu karakter orang bertakwa adalah ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul.  Allah SWT. berfirman:

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (آل عمران 132 🙂

Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat (QS. Ali Imran: 132)

Namun realitasnya, tidak sedikit manusia yang ingin taat tetapi masih menunda: “nanti kalau sudah mapan… nanti kalau sudah tua… nanti kalau keadaan sudah lebih baik…”.  Seringkali yang menghalangi kita untuk taat bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita terlalu banyak mempertimbangkan dunia. Kita menunggu situasi ideal. Padahal keberkahan hidup tidak datang dari kondisi kita yang sempurna, tetapi dari ketaatan kita yang sungguh-sungguh.

Kedua: Spirit Pengorbanan

Tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan. Setiap keberkahan yang kita rasakan, selalu ada harga yang harus dibayar, entah berupa harta, waktu, tenaga, bahkan perasaan. Pada momen Idul Adha, Allah SWT. mensyariatkan ibadah qurban. Hakikat dari ibadah ini bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi pendidikan hati,agar kita belajar ikhlas melepaskan dan ketakwaan, belajar menempatkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya, dan belajar bahwa apa yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan. Dalam hal ini Allah SWT. berfirman:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ (الحج: 37)

Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian. (QS. Al-Hajj: 37)

اللهُ أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,

Idul Adha hadir untuk mengikis egoisme. Melalui ibadah qurban, kita diajarkan untuk berbagi, untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain,
dan untuk menyadari bahwa kita tidak hidup sendiri.  Sikap egoisme justru menambah beban krisis yang sedang kita hadapi. Ketika setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri, ketika kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan bersama, maka krisis tidak akan pernah selesai, bahkan akan semakin meluas. Di tengah kesulitan, ada yang menimbun, di tengah kelaparan, ada yang tidak peduli, dan di tengah penderitaan, ada yang justru mengambil keuntungan. Inilah yang membuat krisis bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga krisis nilai dan kemanusiaan.

Ketiga: Spirit Kepedulian dan Solidaritas Sosial

Idul Adha bukan hanya tentang pengorbanan individu, tetapi juga tentang kepedulian sosial dan solidaritas kemanusiaan. Daging qurban tidak hanya dinikmati oleh yang berqurban, tetapi sebagian diberikan kepada orang lain sebagai wujud kepedulian dan solidaritas sosial.

Allah SWT. berfirman:

فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ (الحج: 36)

“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang yang tidak meminta dan yang meminta.” (QS. Al-Hajj: 36)

Inilah ajaran mulia Islam— bahwa kebahagiaan tidak boleh berhenti pada diri sendiri, tetapi harus mengalir kepada sesama, terutama mereka yang membutuhkan.  Setiap potong daging qurban yang kita bagikan sejatinya bukan hanya memberi makanan, tetapi juga menyampaikan pesan cinta, menguatkan ukhuwah, dan menghadirkan harapan di tengah kehidupan yang penuh keterbatasan.

اللهُ أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,

Kepedulian dan solidaritas sosial memiliki dampak yang luar biasa. Ia bukan sekadar nilai moral, tetapi kekuatan yang mampu menjaga keseimbangan kehidupan dan memperkuat bangunan umat. Ketika kepedulian hidup di tengah masyarakat, maka yang lemah akan terangkat dan yang mengalami kesulitan akan terbantu
dan yang gelisah akan menemukan harapan . Sebaliknya, ketika solidaritas hilang, yang terjadi bukan hanya kesenjangan, tetapi juga retaknya persaudaraan dan hilangnya keberkahan.

Rasulullah SAW. bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مِثْلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بالسَّهَرِ والْحُمَّى (رواه البخاري ومسلم)

Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi, seperti satu tubuh; jika satu anggota sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah gambaran ideal. Umat Islam umat yang tidak membiarkan saudaranya menderita sendirian, umat yang hadir saat yang lain membutuhkan, dan umat yang menjadikan kepedulian sebagai jalan menuju keberkahan.

Maka Idul Adha mengingatkan kita, bahwa kekuatan umat tidak terletak pada banyaknya harta, tetapi pada kuatnya rasa peduli dan solidaritas di antara sesamanya.

Semoga Allah SWT. senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, menguatkan iman kita, dan menjadikan kita bagian dari hamba-hamba-Nya yang menghadirkan kebaikan bagi sesama.

Marilah kita akhiri khutbah ini dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT dengan penuh harap dan kerendahan hati.

أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم. بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَناَ آخِرَتَناَ الَّتي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا في كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِن كُلِّ شَرّ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَا أَصَابَنَا مِنَ الْبَلَاءِ رَفْعًا لِدَرَجَاتِنَا، وَتَكْفِيرًا لِسَيِّئَاتِنَا،
وَاجْعَلْهُ سَبَبًا لِقُرْبِنَا إِلَيْكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ وَسِّعْ أَرْزَاقَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ الْمُخْلِصِينَ. اللَّهُمَّ ارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ إِخْوَانِنَا فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَانْصُرْهُمْ نَصْرًا عَزِيزًا.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ.

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

 

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer