Semangat Tahun Baru Hijriyah di Masjid Al Amin Kedunggupit

Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriyah yang mempunyai keutamaan dan makna penting bagi umat Islam.
Dalam sejarahnya, bulan Muharram merupakan salah satu diantara bulan-bulan yang mulia yang termasuk al-asyhur al-hurum atau bulan yang diharamkan untuk berperang

daidwijatmiko.com— Masjid Al Amin, Dusun Kedunggupit, Desa Sawahan, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Boyolali, menjadi saksi semangat hijrah dalam pengajian Sabtu malam Ahad Legi (12/7/2025) yang dihadiri sekitar 200 jamaah.

Dalam momentum Tahun Baru Islam 1447 Hijriyah ini, Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, menyerukan pentingnya hijrah melalui pendekatan spiritual dengan membaca Al-Qur’an.

Pengajian dimulai pukul 20.00 WIB dengan suasana religius dan penuh semangat. Ustaz Dwi Jatmiko, alumnus Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Raden Mas Said Surakarta, membuka kajiannya dengan mengajak jamaah bersyukur atas nikmat Allah Swt.

“Semoga dengan pengajian Sabtu malam Ahad Legi yang kita lakukan di bulan Muharram ini, Allah selalu memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat,” ujarnya.

Dalam tausiyahnya, Jatmiko menekankan pentingnya membaca dan mengajarkan Al-Qur’an sebagai bagian dari proses hijrah. Ia mengutip sabda Rasulullah Saw. dari hadis riwayat Imam Bukhari:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,” terangnya sambil tersenyum.

Ustaz Jatmiko menjelaskan, momen pergantian tahun Hijriyah harus dijadikan sarana membangun kebangkitan umat. Kebangkitan dalam Islam, menurutnya, tak hanya bersifat rohani tetapi juga intelektual. Oleh karena itu, membaca menjadi perintah awal dalam Al-Qur’an (iqra’), sebagai dasar perubahan ke arah yang lebih baik.

Ia memaparkan dua jenis hijrah, yakni hijrah fisik, berpindah secara tempat; dan hijrah nonfisik, berpindah sikap dan perilaku dari yang buruk menuju yang diridhai Allah Swt.

“Semua ini dapat dilakukan dengan cara mengaji Al-Qur’an. Berhijrah dari buta huruf Arab menjadi mampu membaca Al-Qur’an, baik teks maupun terjemahnya,” jelasnya.

Tak hanya itu, Jatmiko juga menyentil pentingnya kesadaran sosial dalam berhijrah. Ia mencontohkan zakat maal yang seyogianya disalurkan ke Baitul Mal untuk membantu kaum dhuafa.

“Zakat maal bukan sekadar kewajiban, tetapi wujud kepedulian pada kaum pra sejahtera papa nan nestapa,” tambahnya.

Menutup pengajiannya, Ustaz Dwi Jatmiko mengajak jamaah untuk hijrah dari ghibah kepada dzikir, sebagai transformasi spiritual yang membawa ketenangan.

“Ghibah adalah perbuatan tercela, sementara dzikir Hasbunallah wa ni’mal wakil adalah penguat jiwa yang menghadirkan ketenangan dan keberkahan,” pungkasnya.

Pengajian malam itu pun menjadi pengingat bahwa berhijrah tak selalu harus berpindah tempat, tetapi juga berpindah hati, akal, dan amal, dengan Al-Qur’an sebagai cahaya penuntun hidup.

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer