Refleksi Isra Miraj Membumikan Pesan Salat

Seorang muslim selayaknya mampu meng-isra’-kan orang lain, dengan mengajaknya untuk bersama berbuat dalam kebaikan
isra’ adalah kondisi dan proses dimana Sang Rasul diperjalankan di bumi secara horizontal, dan mi’raj adalah ketika Sang Rasul diangkat menuju langit ketujuh secara vertikal

daidwijatmiko.com – Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu kejadian agung dalam sejarah Islam yang sarat dengan nilai spiritual dan pendidikan.

Dalam satu malam, Nabi Muhammad Saw diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dinaikkan ke Sidratul Muntaha.

Dari peristiwa inilah umat Islam menerima perintah sholat lima waktu, sebuah ibadah yang menjadi tiang agama dan pembeda antara keimanan dan kekufuran.

Sholat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi sarana pembinaan ruhani yang membentuk karakter seorang muslim.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-‘Ankabut: 45).

Ayat ini menegaskan bahwa sholat yang ditegakkan dengan benar akan melahirkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa sholat memiliki kedudukan istimewa karena diperintahkan langsung oleh Allah tanpa perantara malaikat.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sholat sebagai media komunikasi antara hamba dan Rabb-nya.

Melalui sholat, seorang muslim diajak untuk menghadirkan Allah dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam ibadah maupun muamalah sosial.

Menegakkan sholat berarti melaksanakannya dengan penuh kesadaran, kekhusyukan, dan konsistensi.

Bukan hanya menjaga jumlah rakaat dan waktu, tetapi juga menghadirkan hati, memahami bacaan, serta menjadikan sholat sebagai sumber ketenangan dan solusi atas berbagai persoalan hidup.

Rasulullah Saw bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka adalah sholat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir” (HR. Tirmidzi).

Di tengah tantangan zaman yang penuh distraksi, refleksi Isra’ Mi’raj mengajak umat Islam untuk kembali menjadikan sholat sebagai prioritas utama. Dari sholat lahir kedisiplinan, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial.

Sholat yang kuat akan melahirkan pribadi yang tangguh dan masyarakat yang beradab.

Dengan memahami makna Isra’ Mi’raj, semoga umat Islam semakin sadar bahwa sholat bukan beban, melainkan kebutuhan ruhani.

Menegakkan sholat berarti menegakkan kehidupan, menjaga iman, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap langkah.

Mari Tadarus Quran Online

وَ لَوْ شِئْنَا لَاٰ تَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدٰٮهَا وَلٰـكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ لَاَ مْلَئَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ اَجْمَعِيْنَ
walau syi-naa la-aatainaa kulla nafsin hudaahaa wa laakin haqqol-qoulu minnii la-amla-anna jahannama minal-jinnati wan-naasi ajma’iin

“Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk nya, tetapi telah ditetapkan perkataan dari-Ku, “Pasti akan Aku penuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.”

فَذُوْقُوْا بِمَا نَسِيْتُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا ۚ اِنَّا نَسِيْنٰكُمْ وَذُوْقُوْا عَذَا بَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
fa zuuquu bimaa nasiitum liqooo-a yaumikum haazaa, innaa nasiinaakum wa zuuquu ‘azaabal-khuldi bimaa kungtum ta’maluun

“Maka rasakanlah olehmu disebabkan kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini, sesungguhnya Kami pun melalaikan kamu dan rasakanlah azab yang kekal, atas apa yang telah kamu kerjakan.””

اِنَّمَا يُؤْمِنُ بِاٰ يٰتِنَا الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِهَا خَرُّوْا سُجَّدًا وَّسَبَّحُوْا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ
innamaa yu-minu bi-aayaatinallaziina izaa zukkiruu bihaa khorruu sujjadaw wa sabbahuu bihamdi robbihim wa hum laa yastakbiruun

“Manusia-manusia yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah manusia-manusia yang apabila diperingatkan dengannya, mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri.”

(QS. As-Sajdah 32: Ayat 13,14,15

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer