daidwijatmiko.com – Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, kemuliaan seorang manusia bukanlah karena ia tidak pernah jatuh, melainkan karena ia mengetahui ke mana harus kembali setelah terjatuh.
Sebelum manusia mengenal dunia dengan segala persoalannya, Allah SWT telah memperkenalkan kepada manusia pertama satu pelajaran yang sangat penting: manusia bisa salah, tetapi pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi orang yang mau kembali.
Dialah Nabi Adam a.s., manusia pertama dan bapak seluruh umat manusia.
Kisah Nabi Adam bukan sekadar cerita tentang penciptaan manusia. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kehormatan, godaan, kesalahan, penyesalan, taubat, dan kasih sayang Allah.
Allah SWT berfirman: وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا
“Dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak mendapati padanya kemauan yang kuat.”
(QS. Taha [20]: 115)
Ayat ini memberikan gambaran bahwa Adam adalah manusia yang memiliki keterbatasan.
Ia bukan malaikat yang tidak memiliki dorongan dan kelemahan manusiawi. Ia adalah manusia pilihan Allah yang tetap mengalami proses belajar.
Di sinilah letak pelajaran pentingnya.
Kesalahan tidak otomatis membuat manusia hina. Yang membuat manusia hina adalah ketika kesalahan melahirkan kesombongan dan penolakan untuk kembali kepada Allah.
Adam melakukan kesalahan, tetapi ia tidak mempertahankan kesalahannya.
Ia kembali.
Ia mengakui.
Ia memohon ampun.
Dan Allah menerima taubatnya.
Al-Qur’an mengisahkan bahwa Allah SWT memberitahukan kepada para malaikat tentang kehendak-Nya menciptakan khalifah di bumi.
Allah berfirman: وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'”
(QS. Al-Baqarah [2]: 30)
Allah kemudian mengajarkan kepada Adam berbagai nama: وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya…”
(QS. Al-Baqarah [2]: 31)
Ini merupakan salah satu gambaran penting tentang kemuliaan manusia: ilmu.
Manusia diberi kemampuan untuk belajar, mengenal, memahami, mengembangkan peradaban, dan memikul amanah sebagai khalifah di bumi.
Namun kemuliaan itu harus disertai dengan ketaatan.
Ilmu tanpa ketaatan dapat melahirkan kesombongan. Kecerdasan tanpa iman dapat membuat manusia merasa mampu melakukan apa saja.
Karena itu, kisah Adam kemudian memperlihatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang berilmu, tetapi juga makhluk yang harus belajar taat dan bertaubat.
Allah SWT memberikan tempat kepada Adam dan istrinya untuk tinggal di surga.
Allah berfirman: وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.'”
(QS. Al-Baqarah [2]: 35)
Perintahnya sebenarnya sederhana.
Nikmati segala sesuatu yang tersedia.
Tetapi ada satu larangan:
Jangan mendekati pohon itu.
Namun manusia diuji bukan hanya dengan sesuatu yang sulit. Terkadang manusia justru diuji ketika memiliki begitu banyak pilihan, tetapi harus menahan diri dari satu hal yang dilarang.
Inilah salah satu hakikat takwa: Mampu mengatakan “tidak” ketika Allah mengatakan “jangan”.
Iblis tidak datang dengan mengatakan, “Mari kita berbuat dosa.”
Ia menggoda dengan membungkus keburukan dalam sebuah harapan.
Allah berfirman: فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang dengan sengaja ditutupi dari keduanya…”
(QS. Al-A’raf [7]: 20)
Dalam Surah Taha, Al-Qur’an menggambarkan bujukan tersebut: فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?'”
(QS. Taha [20]: 120)
Perhatikan cara setan menggoda.
Ia menawarkan keabadian.
Ia menawarkan kekuasaan.
Ia menawarkan sesuatu yang tampak indah.
Inilah salah satu pola godaan yang perlu dipahami manusia hingga hari ini: keburukan sering kali tidak datang dengan wajah yang menakutkan. Ia dapat hadir dalam bentuk sesuatu yang tampak menguntungkan.
Akhirnya Adam dan istrinya memakan buah dari pohon yang dilarang.
Al-Qur’an menggambarkan akibatnya: فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا
“Maka setelah mereka merasakan buah pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya…”
(QS. Al-A’raf [7]: 22)
Yang menarik adalah respons Adam setelah melakukan kesalahan.
Ia tidak mengatakan:
“Saya tidak salah.”
Ia tidak mengatakan:
“Setan yang salah.”
Ia tidak berkata:
“Allah mengapa melarang?”
Kesalahan itu justru melahirkan penyesalan.
Dan dari penyesalan itulah lahir taubat.
Inilah doa Nabi Adam a.s. yang menjadi inti pembahasan kita: رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Rabbanā ẓalamnā anfusanā wa illam taghfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn.
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’raf [7]: 23)
Doa ini sangat pendek.
Namun di dalamnya terdapat struktur taubat yang luar biasa dalam.
Mari kita perhatikan doa tersebut secara perlahan.
1. رَبَّنَا — Rabbanā
“Ya Tuhan kami…”
Adam tidak memulai dengan tuntutan.
Ia memulai dengan pengakuan terhadap Allah.
Rabbanā berarti “Wahai Tuhan kami.”
Kata Rabb mengandung makna Tuhan yang menciptakan, memelihara, mengatur, dan membimbing.
Seolah-olah Adam berkata: “Kami telah melakukan kesalahan, tetapi kami tahu kepada siapa kami harus kembali.”
Inilah pelajaran pertama:
Ketika salah, jangan menjauh dari Allah. Justru kembalilah kepada Allah. “Kami telah menzalimi diri kami sendiri.”
Inilah bagian yang sangat penting.
Adam tidak menyalahkan keadaan.
Tidak menyalahkan pasangan.
Tidak menyalahkan lingkungan.
Tidak menyalahkan takdir.
Ia mengatakan: ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
“Kami telah menzalimi diri kami sendiri.”
Ini adalah pengakuan kesalahan.
Dalam pendidikan karakter, kemampuan mengakui kesalahan merupakan tanda kedewasaan.
Anak yang berkata:
“Iya, Bu, saya yang salah.”
lebih mudah dibimbing daripada anak yang selalu berkata:
“Bukan saya!”
Begitu pula orang dewasa.
Taubat tidak akan tumbuh dari hati yang selalu merasa benar.
Taubat dimulai ketika manusia berani berkata:
“Saya salah.”
“Jika Engkau tidak mengampuni kami…”
Adam memahami bahwa manusia membutuhkan maghfirah, ampunan Allah.
Kata تَغْفِرْ (taghfir) berasal dari akar kata غ ف ر yang berkaitan dengan makna menutupi dan mengampuni.
Ampunan Allah bukan sekadar menghapus catatan kesalahan, tetapi juga merupakan bentuk perlindungan dan rahmat-Nya kepada hamba.
Adam tidak merasa bahwa amal baik masa lalunya cukup untuk membuatnya aman.
Ia tetap membutuhkan ampunan Allah.
Ini pelajaran besar bagi kita.
Jangan pernah merasa terlalu saleh untuk meminta ampun.
Bahkan semakin banyak amal seseorang, seharusnya semakin rendah hati ia di hadapan Allah.
“Dan memberi rahmat kepada kami.”
Adam tidak hanya meminta ampun.
Ia juga meminta rahmat.
Mengapa?
Karena manusia tidak cukup hanya dengan diampuni. Manusia membutuhkan kasih sayang Allah agar dapat menjalani kehidupan dengan benar.
Ampunan menghapus kesalahan.
Rahmat mengantarkan manusia kepada kebaikan.
Karena itu, doa Adam menggabungkan dua permohonan:
Ampunan + Rahmat.
“Niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Adam memahami hakikat kerugian.
Kerugian terbesar bukan kehilangan harta.
Bukan kehilangan jabatan.
Bukan kehilangan popularitas.
Bukan bahkan kehilangan kenyamanan dunia.
Kerugian terbesar adalah kehilangan ampunan dan rahmat Allah.
Allah SWT berfirman: قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“Katakanlah, sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat. Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”
(QS. Az-Zumar [39]: 15)
Maka doa Nabi Adam sebenarnya mengajarkan kita sebuah ukuran baru tentang kesuksesan.
Sukses bukan sekadar memiliki banyak hal.
Sukses adalah ketika kita memiliki Allah.
Kisah Nabi Adam tidak berhenti pada kesalahan.
Inilah bagian yang paling indah.
Allah SWT berfirman: ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ
“Kemudian Tuhannya memilihnya, lalu Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”
(QS. Taha [20]: 122)
Perhatikan urutannya:
Taubat → diterima → diberi petunjuk.
Adam tidak selamanya didefinisikan oleh kesalahannya.
Allah memberikan kesempatan untuk bangkit.
Ini menjadi salah satu pesan terbesar dari kisah Nabi Adam: Masa lalu boleh menjadi pelajaran, tetapi jangan biarkan masa lalu menjadi kesakitan.
Taubat dalam Islam bukan hanya mengucapkan “Astaghfirullah” dengan lisan.
Taubat yang benar melibatkan hati dan tindakan.
Secara umum, para ulama menjelaskan unsur taubat dari dosa sebagai berikut:
- Meninggalkan dosa.
- Menyesali perbuatan.
- Bertekad tidak mengulanginya.
- Jika berkaitan dengan hak manusia, mengembalikan hak atau meminta maaf kepada yang dizalimi.
Dengan demikian, doa Nabi Adam bukan sekadar bacaan.
Ia adalah sikap hidup.
Orang tua terkadang terlalu takut anaknya melakukan kesalahan.
Padahal anak memang sedang belajar.
Yang lebih penting bukan membuat anak tidak pernah salah, tetapi mengajarkan anak bagaimana bertanggung jawab setelah melakukan kesalahan.
Ketika anak memecahkan gelas, jangan hanya bertanya: “Siapa yang memecahkan?”
Ajarkan juga: “Apa yang terjadi? Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Anak perlu belajar bahwa kesalahan harus diakui, diperbaiki, dan dijadikan pelajaran.
Kisah Nabi Adam memberikan dasar pendidikan yang sangat kuat:
Jangan mendidik anak menjadi manusia yang takut mengakui kesalahan. Didiklah mereka menjadi manusia yang berani memperbaikinya.
Di sekolah, guru bukan hanya mengajarkan matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan.
Guru juga mengajarkan bagaimana menjadi manusia.
Ketika seorang siswa melakukan kesalahan, hukuman bukan selalu jawaban terbaik.
Terkadang pertanyaan yang lebih mendidik adalah:
“Apa kesalahanmu?”
“Apa akibatnya?”
“Bagaimana kamu memperbaikinya?”
Inilah pendidikan yang membawa anak dari kesalahan menuju kesadaran.
Ada kalanya kita melakukan dosa yang sama berulang kali.
Ada kalanya kita merasa terlalu jauh dari Allah.
Ada kalanya kita malu untuk berdoa karena merasa banyak kesalahan.
Kisah Adam justru memberikan harapan:
Jangan menunggu menjadi baik untuk kembali kepada Allah. Kembalilah kepada Allah agar Allah membimbing kita menjadi lebih baik.
Jangan berkata:
“Saya terlalu banyak dosa.”
Tetapi katakan:
“Allah Maha Pengampun. Saya harus kembali.”
Kesalahan
↓
Menyadari kesalahan
↓
Mengakui kesalahan
↓
Memohon ampun
↓
Memohon rahmat
↓
Mendapat petunjuk
↓
Memulai kehidupan dengan lebih baik
Inilah perjalanan taubat yang diajarkan Nabi Adam a.s.
Manusia pertama mengajarkan kepada manusia seluruh dunia bahwa jatuh bukanlah akhir perjalanan. Yang berbahaya bukan ketika kaki kita pernah tergelincir, tetapi ketika hati kita menolak untuk kembali kepada Allah.
Jangan malu karena pernah berdosa. Malulah jika dosa membuat kita tidak lagi merasa perlu bertaubat.
Allah tidak mencari manusia yang tidak pernah salah. Allah mencintai hamba yang ketika salah, segera kembali kepada-Nya.
Ya Allah…
Kami mengakui bahwa kami sering menzalimi diri sendiri.
Kami pernah lalai ketika Engkau mengingatkan.
Kami pernah mengejar dunia hingga melupakan akhirat.
Kami pernah mengetahui yang benar tetapi tidak mengerjakannya.
Kami pernah mengetahui yang salah tetapi tetap melakukannya.
Ya Allah…
Kami tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri di hadapan-Mu.
Kami hanya memiliki satu harapan: ampunan dan rahmat-Mu. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa il-lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal-khaasiriin.
Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Kisah Nabi Adam dalam bab ini terutama dirujuk dari QS. Al-Baqarah [2]: 30–39, QS. Al-A’raf [7]: 11–27, dan QS. Taha [20]: 115–123. Doa رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا… secara eksplisit terdapat dalam QS. Al-A’raf [7]: 23.