Tiga Panggilan Allah kepada Manusia, Sudahkah Kita Menjawab?

Bagaimana cara mengenal Allah? Tentu banyak caranya, apa itu melalui Kitabnya, maupun melalui ciptaannya, seperti alam semesta dan seluruh yang ada didalamnya, dan lain sebagainya.
Pahami Tiga Panggilan Allah SWT

daidwijatmiko.com – Hidup manusia sesungguhnya dipenuhi panggilan untuk mendekat kepada Allah SWT.

Namun, kesibukan dunia sering membuat manusia lupa bahwa kehidupan bukan sekadar mengejar harta, jabatan, dan popularitas.

Ada panggilan yang harus dijawab dengan ibadah, ada kesempatan yang perlu disambut dengan keimanan, dan ada kepastian yang tidak mungkin dihindari: kematian.

Tiga macam panggilan Allah SWT kepada manusia, terdapat tiga momentum penting yang patut menjadi bahan introspeksi setiap muslim: azan, ibadah ke Baitullah, dan kematian.

Pertama, panggilan azan.

Lima kali sehari, azan berkumandang mengajak umat Islam menunaikan salat. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 103 bahwa salat merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman.

Sayangnya, panggilan ini terkadang kalah oleh pekerjaan, rapat, perdagangan, bahkan hiburan. Padahal, salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana menjaga hubungan seorang hamba dengan Penciptanya. Menjawab panggilan azan berarti berusaha menegakkan salat tepat waktu dengan penuh kesadaran.

Kedua, panggilan ke Baitullah.

Ibadah haji merupakan kewajiban bagi muslim yang mampu, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ali Imran ayat 97. Sementara itu, umrah menjadi ibadah yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan besar.

Perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan kesempatan memperbaiki diri, memperkuat ketakwaan, dan menumbuhkan kerendahan hati di hadapan Allah SWT.

Ketiga, panggilan kematian.

Inilah kepastian yang tidak mengenal usia, jabatan, maupun kekayaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 185, bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.

Karena itu, jangan menunggu tua untuk bertobat, jangan menunggu kaya untuk beribadah, dan jangan menunggu kehilangan untuk mensyukuri nikmat.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan berapa kali kita mendengar panggilan Allah, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita menjawabnya. Semoga kita menjadi hamba yang menjaga salat, dimampukan beribadah ke Baitullah, dan dipanggil kembali kepada Allah dalam keadaan beriman serta membawa amal saleh.

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer