Kepemilikan Semu Manusia

Islam mengajarkan untuk berdiri tegak sebagai individu yang merdeka di hadapan Allah
Jangan Gantungkan Hidup Sepenuhnya Lewat BMT

daidwijatmiko.com –Penyakit kebanyakan manusia adalah menganggap apa yang ada pada dirinya miliknya mutlak.

Kalimat singkat ini sesungguhnya menampar kesadaran kita tentang cara memandang hidup.

Banyak orang merasa bahwa harta, jabatan, ilmu, bahkan kesehatan adalah hasil murni usaha pribadi.

Dari sinilah lahir kesombongan, kerakusan, dan keengganan berbagi dengan sesama.

Dalam pandangan Islam, semua yang ada pada diri manusia hanyalah titipan Allah SWT.

Harta disebut amanah, jabatan adalah tanggung jawab, dan ilmu merupakan karunia yang harus diamalkan.

Allah berfirman, “Berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu” (QS. An-Nur: 33).

Ayat ini menegaskan bahwa kepemilikan manusia bersifat relatif, bukan mutlak.

Ketika manusia lupa bahwa dirinya hanya sebagai penerima titipan, ia mudah tergelincir pada sikap merasa paling berhak, paling benar, dan paling berkuasa.

Akibatnya, muncul ketidakadilan, penindasan, dan rusaknya hubungan sosial.

Orang enggan bersedekah karena merasa hartanya akan berkurang.

Pejabat menyalahgunakan wewenang karena menganggap jabatan sebagai hak pribadi. Bahkan ilmu pun dipakai untuk menipu dan merugikan orang lain.

Kesadaran bahwa semua milik Allah justru melahirkan ketenangan.

Seseorang tidak mudah gelisah ketika kehilangan, sebab ia sadar hanya mengembalikan titipan.

Ia juga tidak sombong saat memiliki, karena paham bahwa semua itu bisa diambil kapan saja.

Inilah makna zuhud yang benar, bukan menolak dunia, tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

Rasulullah Saw mengajarkan keseimbangan ini melalui teladan hidupnya.

Beliau memiliki harta, namun paling dermawan. Beliau memiliki kedudukan, namun paling rendah hati.

Semua itu karena keyakinan bahwa dirinya hanyalah hamba.

Maka, obat dari penyakit menganggap milik secara mutlak adalah memperkuat tauhid dan rasa syukur.

Dengan begitu, manusia hidup lebih adil, tenang, dan bermanfaat bagi sesama serta bernilai di sisi Allah SWT.

Kesadaran ini perlu terus dilatih melalui ibadah, muhasabah, dan kepedulian sosial.

Setiap sedekah, setiap kebaikan, dan setiap amanah yang dijaga adalah bukti bahwa manusia memahami posisinya sebagai hamba, bukan pemilik sejati.

Dari sinilah lahir peradaban yang beradab penuh rahmat, keadilan, dan keberkahan bagi semua manusia akhirat.

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer