Oleh: Dwi Jatmiko, M.Pd.
Dalam dunia jurnalistik, dikenal prinsip 5W + 1H: what, who, when, where, why, how. Prinsip ini menjadi pilar utama agar sebuah berita jelas, tidak menyesatkan, serta memiliki nilai kebenaran.
Menariknya, Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu telah memberikan fondasi yang sejalan dengan prinsip jurnalistik modern.
1. What (Apa) – Kebenaran Informasi
Al-Qur’an menekankan pentingnya kejelasan berita. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…” (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini menegaskan, berita tidak boleh diterima mentah-mentah. Dalam istilah jurnalistik, ini disebut verifikasi fakta.
2. Who (Siapa) – Kredibilitas Narasumber
Jurnalistik menuntut kejelasan sumber berita. Al-Qur’an pun mengingatkan pentingnya sosok yang menyampaikan.
Seorang penyampai berita harus terpercaya (tsiqah), bukan pembohong. Rasulullah SAW bersabda:
“Cukuplah seseorang disebut pendusta jika ia menceritakan semua yang didengarnya.” (HR. Muslim).
3. When (Kapan) – Ketepatan Waktu
Informasi memiliki konteks waktu. Al-Qur’an menggunakan kata idz atau yauma untuk menegaskan dimensi waktu dalam sebuah peristiwa.
Misalnya dalam kisah Perang Badar (QS. Al-Anfal: 17), Allah menekankan momentum sejarah sebagai pelajaran.
4. Where (Di mana) – Konteks Peristiwa
Dalam Al-Qur’an, lokasi sering disebut untuk mempertegas kebenaran berita. Misalnya kisah Ashabul Kahfi yang diceritakan lengkap dengan tempat gua mereka (QS. Al-Kahfi: 9-26).
Ini menunjukkan pentingnya kontekstualisasi lokasi dalam berita.
5. Why (Mengapa) – Tujuan dan Hikmah
Al-Qur’an tidak hanya menyebut peristiwa, tetapi juga menjelaskan alasan di baliknya.
Kisah Nabi Yusuf AS misalnya, bukan sekadar cerita, tetapi pelajaran tentang kesabaran, amanah, dan pengendalian diri (QS. Yusuf: 111). Unsur why menjadikan berita tidak sekadar informatif, tapi juga edukatif.
6. How (Bagaimana) – Proses Peristiwa
Al-Qur’an kerap menjelaskan proses suatu kejadian agar pembaca memahami runtutannya.
Kisah penciptaan manusia dalam QS. Al-Mu’minun: 12–14 adalah contoh narasi yang detail: dari tanah, nutfah, segumpal darah, hingga menjadi manusia sempurna.
Lebih jauh, Al-Qur’an tidak hanya menekankan kelengkapan unsur berita, tetapi juga etika penyampaian. Firman Allah:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…” (QS. Al-Isra: 36).
Ayat ini mengandung prinsip check and recheck, menghindari hoaks, serta menjaga marwah kebenaran.
Dengan demikian, unsur-unsur jurnalistik yang kini diajarkan di bangku kuliah sejatinya telah lebih dulu diajarkan Al-Qur’an.
Bagi seorang jurnalis muslim, Al-Qur’an bukan hanya kitab suci, melainkan juga pedoman etika profesi.
Jika nilai-nilai Qur’ani diterapkan, maka jurnalistik tidak akan hanya berhenti pada “memberitakan”, tetapi juga menjadi jalan untuk mencerahkan dan menebar maslahat bagi umat manusia.