Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (QS. Al-Mu’minun: 23: 1).
kata “Qad” , jika dilihat dalam bahasa arab kata qad memiliki makna ta’kid (penguat, penekanan dan kepastian atau keseungguhan). Allah swt sungguh mengabarkan kepada orang-orang Mukmin yang ingin beruntung, yaitu mereka yang senantiasa menjalakan ketetapannya.
Bahwa dalam Firman Allah “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman itu,” maksudnya mereka telah memperoleh kemenangan, kebahagiaan dan keberuntungan serta telah berhasil menggapai apa yang dicita-citakan.
Mereka adalah kaum Mukminin yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan para utusan Allah swt. Disisi lain, ayat ini juga mengandung motivasi besar yang Allah swt berikan kepada hambanya dengan mengabarkan kesungguhan dan kebenaran akan keberuntungan yang diperoleh oleh hamba-Nya, jika mampu melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya.
Artinya: (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, (QS. Al-Mu’minun: 23: 2).
Mukmin yang beruntung adalah mereka yang mengerjakan shalatnya dengan khusu’ hanya ditujukan kepada Allah swt. Tidak ada lagi sekutu di dalam hatinya, sehingga dalam beribadah hanyalah Allah swt yang ada di dalam hatinya. Khusu’ bukan berati menangis dalam shalat saja, melainkan rasa tunduk dan takut yang ditunjukan kepada Allah swt. Shalat sebagai sarana interaksi vertikal seorang hamba kepada Allah swt melalui do’a dalam shalat, maka orang yang beradab dan berakhlak adalah mereka khusu’ dalam shalatnya.
“Yaitu orang-orang yang khusyu´ dalam shalatnya”, adalah mereka yang pasrah dan berserah diri, merendahkan diri di hadapan Allah disertai dengan rasa takut dan kedamaian.
Khusu’ dalam shalat, hakikatnya ialah hadirnya hati dihadapan Allah, berusaha hadir untuk mendekati-Nya sehingga dengan itu, hati menjadi tenang, jiwanya merengkuh ketentraman, gerakan-gerakannya menjadi tenang serta keberpalingannya berkurang,untuk menjaga kesopanan di hadapan Rabbnya dan menghayati setiap ucapan dan gerakan shalatnya, dari awal sampai selesai.
Berkat itu, bisikan-bisikan setan dan pikiran-pikiran yang hina lenyap. Inilah ruh (substansi) shalat yang menjadi tujuan pelaksanaannya. Itulah yang diwajibkan untuk hamba.Shalat yang tidak memuat unsur kekhusuan sama sekali, dan tanpa penghayatan hati, kendatipun sudah cukup mengugurkan kewajiban dan mendatangkan pahala, namun sungguh besar-kecilnya pahala tergantung dengan sejauh mana hati menghayati shalatnya.
Artinya: dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (QS. Al-Mu’minun: 23: 3).
Orang-orang yang senantiasa menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak ada gunannya dalah mereka yang senantiasa menjaga amal dan lisannya. Allah swt tidak pernah melihat dan memandang hambahnya melalui penampilan baik ganteng ataupun cantik dengan menggunakan berbagai periasan dan perlengkapan dan kebutuhan yang mewah atau membanggakan hartannya. Melainkan Allah swt memandang hambanya melalui hati yang dimilikinya yang digunakan untuk menimbang segala amal perbuatan yang baik, tentunnya hatinya digunakan untuk senantiasa mengimani Allah swt.
“Dan orang-orang yang dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,” yaitu perbincangan yang tidak ada muatan kebaikan dan kegunaannya sama sekali, “mereka menjauhkan diri,” karena kebencian dan ingin menjaga diri serta keengganan. Bila mendapati tindakan sia-sia, mereka sekedar melewatinya dengan menjaga kehormatan diri.
Jika mereka berpaling dari tindakan yang sia-sia, maka sudah semestinya mereka lebih menjauhi dari perkara-perkara yang diharamkan. Kalau seorang hamba mampu menguasai lisannya dan menyimpannya kecuali dalam kebaikan, maka dia akan berhasil mengendalikan perkara (agamanya).
Seperti kandungan hadits yang disampaikan oleh Rasulullah kepada sahabat Mu’adz bin jabal manakala beliau berpesan kepada sahabat itu dengan beberapa wasiat. “Tidakkah kamu mau aku mengabarimu dengan pengendalian perkara itu semuanya?” Aku menjawab,” Sudah tentu wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lisan sendiri seraya berkata,” Kamu tahanlah ini.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi). Kaum Mukminin, sebagian dari ciri mereka yang terpuji, adalah mengekang lisan-lisan mereka dari ucapan sia-sia dan omongan haram.