daidwijatmiko.com – Dwi Jatmiko, guru SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah, mencatat pencapaian penting dengan meraih sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) untuk ciptaan kompilasi ciptaan atau data.
Karya tersebut berupa merek daidwijatmiko.com dengan uraian warna oranye hitam pekat. Sertifikat berlaku selama 50 tahun dan ditandatangani atas nama Menteri Hukum dan HAM oleh Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Agung Damarsasongko, Jumat (1/8/2025).
“Alhamdulillah, sesuai arahan pasca Wisuda Standardisasi Da’i Majelis Ulama Indonesia Pusat, komunikasi dakwah yang menyentuh bisa dilakukan melalui portal online,” kata Dwi Jatmiko kepada Solopos.com.
Menurutnya, capaian ini menjadi bukti komitmen guru-guru di sekolah yang berdiri sejak 1935 itu untuk terus kompeten dan inovatif.
“Guru adalah garda terdepan mencerdaskan anak bangsa. Maka menjadi wajib Ing ngarso sung tuladha — di depan memberi teladan, Ing madya mangun karsa — di tengah membangkitkan semangat, dan Tut wuri handayani — di belakang memberi dorongan,” ujar anggota Pimpinan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani PDM Kota Surakarta tersebut.
Dwi Jatmiko menambahkan, kemampuan digital marketing menjadi keterampilan penting bagi para da’i untuk melaksanakan dakwah Islam melalui media tulisan. Ia merujuk firman Allah dalam QS Al-Qalam ayat 1: “Nun, perhatikanlah Al-Qalam dan apa yang dituliskannya.”
“Dunia kepenulisan dan dakwah konsisten merupakan faktor utama untuk mengembangkan akhlakul karimah umat agar terwujud masyarakat berkualitas dalam melayani umat (khidmah al-ummah) dan melindungi NKRI (himayah ad-daulah),” ujar Da’i Champions MUI Pusat itu.
Ia membuktikan bahwa guru agama SD dapat berperan sebagai kolumnis, inovator, peneliti, dan kontributor informasi pendidikan. Bagi Jatmiko, tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan menciptakan ruang belajar yang memantik kreativitas dan pembelajaran bermakna.
Dwi Jatmiko juga menyampaikan rasa syukur atas kemudahan yang diberikan Allah SWT dalam perjalanan pendidikannya.
“Setiap kesulitan pasti ada dua kemudahan. Terus belajar sepanjang hayat. Surat Pencatatan Ciptaan ini menjadi jejak sejarah dan digital untuk mensyiarkan kepedulian terhadap agama, manusia, lingkungan, dan sistem,” tutur alumni Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta itu.