daidwijatmiko.com – Salah satu langkah penting dalam belajar membaca Al-Qur’an adalah memahami harokat atau tanda baca. Harokat berperan sebagai penanda vokal atau bunyi yang melekat pada huruf hijaiyah.
Tanpa harokat, pembacaan huruf bisa salah makna dan pengucapan. Buku pelajaran ini menyajikan delapan jenis harokat utama yang perlu dikenal sejak dini.
-
Fathah ( ـَ )
Tanda garis miring pendek di atas huruf yang berbunyi “a”. Misalnya: بَ dibaca “ba”. -
Kasroh ( ـِ )
Tanda garis miring pendek di bawah huruf yang berbunyi “i”. Misalnya: بِ dibaca “bi”. -
Dhommah ( ـُ )
Tanda seperti koma kecil di atas huruf, berbunyi “u”. Contoh: بُ dibaca “bu”. -
Fathah Tanwin ( ـً )
Dua fathah yang menghasilkan bunyi “an”. Biasanya digunakan pada akhir kata. Contoh: كِتَابًا (kitāban). -
Kasroh Tanwin ( ـٍ )
Dua kasroh menghasilkan bunyi “in”. Misalnya: قَلَمٍ (qolamin). -
Dhommah Tanwin ( ـٌ )
Dua dhommah menghasilkan bunyi “un”. Contoh: قَلَمٌ (qolamun). -
Sukun ( ـْ )
Tanda seperti kepala kecil ha’ (ه) yang menunjukkan huruf mati (tidak berharokat). Misalnya: مِنْ (min). -
Tasydid ( ـّ )
Tanda seperti huruf “w” kecil di atas huruf yang menunjukkan penggandaan bunyi huruf. Contoh: مُحَمَّدٌ (Muhammad), huruf “m” dibaca dobel.
Dengan memahami delapan jenis harokat ini, siswa akan lebih mudah dan tepat dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Pembelajaran harokat menjadi dasar kuat sebelum masuk ke tajwid atau ilmu membaca Al-Qur’an secara benar dan indah.