daidwijatmiko.com – Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِ نَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 124)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْۤ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا
“Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 125)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ كَذٰلِكَ اَتَـتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَا ۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى
“Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 126)
Meninggalkan Al-Qur’an—baik tidak membaca, memahami, maupun mengamalkannya—mengakibatkan hilangnya petunjuk hidup, hati menjadi hampa, dan kesesatan. Akibat utamanya adalah kehidupan yang sempit (ma’isyatan dhanka), kecemasan hati, kawan dekat setan, serta ancaman kebangkitan dalam keadaan buta di akhirat (QS. Tha-Ha: 124).
Berikut adalah rincian akibat meninggalkan Al-Qur’an:
Penghidupan yang Sempit: Meskipun secara materi tercukupi, pelakunya akan merasa hidupnya hampa, tidak tenang, dan sesak karena jauh dari rahmat Allah.
Hilangnya Petunjuk (Tersesat): Tanpa Al-Qur’an, seseorang kehilangan kompas moral, sehingga mudah terjerumus dalam kemaksiatan, perbuatan menyimpang, dan kebodohan.
Dikumpulkan dalam Keadaan Buta: Berdasarkan QS. Tha-Ha ayat 124, orang yang berpaling dari peringatan Allah (Al-Qur’an) akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan buta.
Hati Menjadi Keras dan Lalai: Jauh dari Al-Qur’an membuat hati kehilangan cahaya keimanan, menjadi beku, dan melalaikan dzikrullah.
Berteman dengan Setan: Orang yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman akan menjadikan setan sebagai pendamping terdekat, yang mengatur jalan pikirannya.
Kerugian Dunia dan Akhirat: Meninggalkan Al-Qur’an adalah bentuk pengabaian terhadap firman Allah yang berakibat kerugian besar di dunia serta azab di akhirat.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama adalah satu-satunya cara untuk terhindar dari kesesatan dan mencapai ketenangan hidup.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَا دِنَا ۚ فَمِنْهُمْ ظَا لِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚ وَمِنْهُمْ سَا بِقٌ بِۢا لْخَيْرٰتِ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
(QS. Fatir 35: Ayat 32)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَا دِنَا ۚ فَمِنْهُمْ ظَا لِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚ وَمِنْهُمْ سَا بِقٌ بِۢا لْخَيْرٰتِ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
(QS. Fatir 35: Ayat 32)
Surah Fatir ayat 32 menegaskan bahwa umat Nabi Muhammad SAW adalah pewaris Al-Qur’an yang terpilih, namun terbagi menjadi tiga golongan dalam menyikapinya: (1) zalimun linafsih (pendosa/lalai), (2) muqtasid (pertengahan), dan (3) sabiqun bil khairat (berlomba dalam kebaikan). Ketiganya tetap di bawah rahmat Allah dan akan masuk surga.
Tiga Golongan Pewaris Al-Qur’an (Surah Fatir: 32):
Zalimun Linafsih (Menzalimi Diri Sendiri): Kelompok yang masih sering melakukan dosa, mencampuradukkan amal saleh dengan keburukan, dan kurang memperhatikan kewajiban, namun tetap beriman.
Muqtasid (Pertengahan): Kelompok yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan hal yang diharamkan, namun belum konsisten dalam amalan sunnah atau kadang melakukan makruh.
Sabiqun Bil Khairat (Berlomba dalam Kebaikan): Kelompok tertinggi yang selalu mengerjakan amalan wajib dan sunnah, serta meninggalkan hal haram, makruh, dan sebagian mubah atas izin Allah.
Ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa terpilihnya umat ini sebagai pewaris kitab suci merupakan “karunia yang besar” (Fadhlun Kabir