KARANGANYAR — Sebuah gerakan senyap tapi penuh strategi tengah mengalir dari sebuah balai desa di lereng Lawu.
Dari Desa Girilayu, Kabupaten Karanganyar, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA) melancarkan misi yang lebih besar dari sekadar Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Mereka menyebutnya program Ekor Merak Sadjirayu No. 6, yang berambisi mengangkat batik lokal menjadi ratu di kancah dunia.
Workshop bertajuk “Akselerasi UMKM Desa Girilayu: Strategi Digitalisasi dan Ekspor Produk Unggulan Menuju Pasar Global” digelar Sabtu, 23 Agustus 2025, di Balai Desa Girilayu.
Sekitar 70 pelaku UMKM batik memenuhi ruang besar bercat krem itu, menyimak paparan yang membidik satu tujuan: membebaskan batik Girilayu dari sekadar artefak budaya menjadi lokomotif ekonomi digital.
Ketua Panitia, Muhammad Ardiyansah, dengan lantang menyebut acara ini sebagai simbol sinergi akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah. “Kami yakin batik Girilayu akan mendunia, membawa nama Karanganyar sejajar dengan pusat budaya global,” ujarnya penuh keyakinan.
Rektor UMUKA, Dr. H. Muh Samsuri, M.S.I., dan Kaprodi S1 Bisnis Digital, Saefudin, S.M., MBA, ikut hadir mengawal misi ini.
Saefudin menegaskan, batik bukan hanya produk ekonomi, melainkan gerakan budaya sekaligus politik kemandirian desa.
“Jika UMKM tumbuh, ekonomi rakyat akan bergerak, lapangan kerja tercipta, dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” katanya.
Ia menambahkan, dari Girilayu, desa harus berani tampil sebagai subjek peradaban. “Desa adalah pelaku utama pembangunan bangsa. Dan batik Girilayu adalah buktinya.”
Deretan narasumber lintas sektor memberi warna pada diskusi. Noviandhi Yudha Pratama dari BPRS Hikhmah Khazanah memaparkan pentingnya pengelolaan modal.
Sementara Diaz Bahari Adhitama dari PT Shopee International Indonesia membuka pintu peluang pasar digital lintas negara.
“Batik Girilayu memiliki cerita budaya yang unik. Dengan kemasan digital yang tepat, ia akan jadi daya tarik global,” ujar Diaz.
Ketua HIPMI Karanganyar, Hervan Miftah Hafidin, bahkan menyebut batik sebagai “komoditas budaya bernilai tawar internasional, asalkan dikelola dengan kreatif.”
Antusiasme juga datang dari pelaku UMKM sendiri. Maryati, pengrajin dari Paguyuban Batik Giriarum, menyambut baik pendampingan mahasiswa UMUKA.
“Selama ini kami fokus pada produksi, tapi kesulitan di pemasaran digital. Workshop ini memberi kami harapan baru untuk masuk pasar internasional,” katanya.
Ia menambahkan, mahasiswa membawa semangat berbeda. “Anak-anak muda ini jembatan kami dengan zaman digital. Semoga sinergi ini berlanjut.”
Meski dikemas sederhana, program Ekor Merak Sadjirayu No. 6 mengandung misi rahasia: mengubah wajah desa melalui ekonomi kreatif. Dari batik Girilayu,
mereka mencoba menulis bab baru: desa yang tidak lagi dipandang sebagai pinggiran, melainkan pusat narasi global.
Jika strategi ini berhasil, Girilayu tak hanya dikenal sebagai pengrajin batik, tetapi sebagai episentrum baru batik dunia.
Dan misi mahasiswa UMUKA ini bisa jadi catatan penting, bagaimana sebuah gerakan kecil di desa mampu menembus panggung global.