daidwijatmiko.com – Setiap nabi diberikan mukjizat oleh Allah untuk membuktikan kenabiannya.
Nabi Musa AS diberikan tongkat yang bisa berubah menjadi ular. Nabi Isa AS bisa menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.
Namun berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya, mukjizat Nabi Muhammad ﷺ adalah Al-Qur’an, dan mukjizat ini bersifat abadi.
Dalam pandangan penulis, ini bukan sekadar fakta sejarah, tapi realita hidup yang kita saksikan setiap hari.
Al-Qur’an tidak pernah basi oleh zaman. Ia tetap relevan, tetap menyentuh jiwa, tetap membimbing umat, dan tetap menantang akal.
Allah SWT berfirman dalam Al-Baqarah ayat 23:
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍۢ مِّن مِّثْلِهِ…
“Jika kamu dalam keraguan terhadap (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal dengannya…”
Sampai hari ini, tak satu pun manusia sanggup menandingi satu surat Al-Qur’an, baik dari sisi bahasa, struktur, isi, maupun dampak spiritualnya. Bahkan ketika banyak orang mencoba menyerang Al-Qur’an, justru mereka yang kalah dengan hujah dan kemurnian isinya.
Kemuliaan bagi yang Membawa Misi Al-Qur’an
Sayangnya, banyak umat Islam yang hanya mengakui Al-Qur’an sebagai mukjizat, tetapi tidak menjalankan misinya.
Padahal, kemuliaan itu bukan hanya datang dari membaca dan menghafalnya, tetapi dari menjadikannya sebagai panduan hidup.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim)
Ayat ini membuat saya merenung, bahwa ketinggian peradaban Islam dahulu bukan karena kekuatan militer atau ekonomi, tetapi karena mereka hidup bersama Al-Qur’an.
Hari ini, kita butuh kebangkitan yang serupa. Tapi kebangkitan itu tak mungkin datang tanpa generasi Qur’ani.
Generasi yang membaca Al-Qur’an bukan sekadar ritual, tapi juga spiritual dan intelektual. Generasi yang memaknai isinya, mengamalkan nilainya, dan menyebarkan cahayanya.
Tugas Kita: Menjadi Perpanjangan Tangan Al-Qur’an
Kita tidak ditakdirkan sebagai nabi. Tapi kita bisa menjadi pembawa misi kenabian: menyampaikan cahaya wahyu.
Langkah kecil tapi nyata bisa dimulai dari:
Membaca Al-Qur’an setiap hari.
Memahami maknanya, ayat demi ayat.
Mengamalkan kandungannya dalam kehidupan pribadi, sosial, dan profesional.
Mengajarkannya kepada keluarga, murid, dan masyarakat.
Sebagaimana sabda Nabi:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Kalau kita ingin dimuliakan Allah di dunia dan akhirat, kuncinya adalah Al-Qur’an. Mukjizat ini tak bisa dibantah, tapi bisa kita abaikan — dan itu berbahaya. Karena siapa yang menjauh dari Al-Qur’an, sejatinya sedang menjauh dari cahaya hidupnya.
Maka, mari kita hidupkan Al-Qur’an dalam diri, dalam keluarga, dalam sekolah, dan dalam bangsa ini.
Karena semakin kita menghidupkan Al-Qur’an, semakin hidup pula kemuliaan kita.