daidwijatmiko.com – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kemlayan akan menggelar pengajian rutin bertema “Berorganisasi dan Berjama’ah” pada Senin (4/8/2025) di Masjid An Ni’mah, Kemlayan, Solo.
Pengajian ini menghadirkan Ustaz Dwi Jatmiko, M.Pd., Gr., CPS., Da’i Champions MUI Pusat, yang memaparkan pentingnya menghidupkan Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) di lingkungan Muhammadiyah.
Dalam paparannya, Ustaz Dwi akan menjelaskan bahwa keberadaan ranting Muhammadiyah menjadi ujung tombak dakwah persyarikatan. Ia menyebutkan ada lima jenis ranting dalam Muhammadiyah yang perlu dipahami warga persyarikatan.
Pertama, Ranting Rintisan. Ranting ini terbentuk dari inisiatif struktural di atasnya (top down) seperti PCM, atau dari jamaah dan warga setempat (bottom up). Kadang, prosesnya merupakan kombinasi keduanya.
Kedua, Ranting Hidup, yang menjalankan kegiatan apa adanya dengan masjid atau musala sebagai pusat aktivitas. Pengajian ada, baik khusus maupun umum, namun tidak rutin, dan kantor ranting biasanya berpindah sesuai domisili pimpinan.
Ketiga, Ranting Mati, yang sudah tidak berdaya. “Inilah ranting innalillahi wa inna ilaihi rajiun,” seloroh Dwi.
Ciri-cirinya, tak ada pengajian, tak ada jamaah, bahkan tak ada masjid atau musala sebagai basis kegiatan, hanya tersisa papan nama.
Keempat, Ranting Unggul, yang sukses menjalankan program kemaslahatan, seperti pemberdayaan ekonomi warga. Ranting ini memiliki kantor permanen, minimal 50 anggota tetap, masjid atau musala pusat kegiatan, pengajian rutin, manajemen kantor baik, dan analisis problematika secara sistematis.
Kelima, Ranting Ideal, yang menjadi teladan dan cita-cita Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam sebenar-benarnya. Ranting ini memiliki seluruh keunggulan ranting unggul plus lima karakter pokok sebagai role model dakwah persyarikatan.
Menurut Dwi, memahami klasifikasi ini penting agar warga Muhammadiyah bisa bersama-sama menghidupkan rantingnya. “Kalau ranting kuat, jamaah akan solid. Kalau jamaah solid, dakwah pasti berkembang,” tegasnya.
Harapannya, pengajian ini menjadi penyemangat bagi warga untuk aktif berorganisasi dan menghidupkan jamaah. “GJDJ bukan sekadar program, tapi ruh gerakan dakwah Muhammadiyah,” ujarnya.
Pengajian ini terbuka untuk umum dan dihadiri jamaah dari berbagai kalangan, meneguhkan semangat bahwa dakwah yang kuat berawal dari jamaah yang terorganisasi.