Itikaf Ramadhan Rasullallah Menjelang Wafatnya

Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dengan i’tikaf di masjid
Dokumentasi Kegiatan Pengajian ibu-ibu Jamaah masjid Subulus Salam Solo

daidwijatmiko.com – I’tikaf Ramadhan Rasullallah Menjelang Wafatnya

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال،
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Dari Abu hurairah radhiyallahu anhu berkata :
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.HR. Bukhari no. 2044.

Pelajaran yang terdapat didalam hadits :

1- I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.
2- Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.
3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berzikir waktu itu.
4- Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
[HR. Bukhari no. 2026 dan  Muslim no. 1172]
5- Menurut mayoritas ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minimalnya, artinya boleh cuma sesaat di malam atau di siang hari.AlMardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”

Tema hadits yang berkaitan dengan Al qur’an :

– Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid.”Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid.

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187).

5 Obat Hati (Penawar Hati):
1-Berkumpul dengan orang-orang saleh.
2.Membaca Al-Qur’an.
3.Melaparkan perut (puasa/tidak berlebihan makan).
4.Salat malam (tahajud).
5.BerDZIKIR dan berdoa di waktu malam

5 Perkara yang Tak Boleh Diremehkan:
1.Ulama: Meremehkan ulama merusak agama.
2.Umara (Pemimpin): Meremehkan pemimpin merusak dunia.
3.Tetangga: Meremehkan tetangga menghilangkan manfaat/bantuan.
4.Kerabat: Meremehkan kerabat menghilangkan kasih sayang.
5.Keluarga (Istri/Anak): Meremehkan keluarga menghilangkan manisnya hidup.

5 Perkara Agar Hidup Bahagia & Lancar Rezeki:

1.Istiqamah bersedekah (meski sedikit).
2.Menjalin silaturahim.
3.Jihad fi sabilillah.
5.Menjaga wudhu.
6.Istiqamah 7.Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua).

Nasehat-nasehat ini bertujuan menuntun hamba menuju ketakwaan dan menjaga akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِا للّٰهِ وَبِا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ
wa minan-naasi may yaquulu aamannaa billaahi wa bil-yaumil-aakhiri wa maa hum bimu-miniin
“Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”

يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا  ۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّاۤ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ
yukhoodi’uunalloha wallaziina aamanuu, wa maa yakhda’uuna illaaa angfusahum wa maa yasy’uruun
“Mereka menipu Allah dan manusia-manusia yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.”

QS. Al-Baqarah 2: Ayat 8,9

فَاِ نَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
fa inna ma’al-‘usri yusroo

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,”

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
inna ma’al-‘usri yusroo

“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

وَاِ لٰى رَبِّكَ فَا رْغَبْ
wa ilaa robbika farghob

“dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”

QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5,6,8

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer