Ekonomi Berkah Tanpa Riba: Refleksi al-Baqarah 274–279

Balasan bagi Pelaku Riba dalam Al-Qur’an
Untuk itu mengapa manusia selalu diuji oleh tuhannya, jawabannya kita cari langsung di Al-Quran

daidwijatmiko.com – Dalam kehidupan modern, banyak orang mengukur kebahagiaan dari harta yang menumpuk.

Padahal, Al-Qur’an memberikan panduan yang jelas: keberkahan bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi bagaimana kita memperolehnya dan bagaimana kita membelanjakannya.

Allah ﷻ berfirman:

“ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡۖ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ”
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan siang hari, secara sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” – QS. al-Baqarah: 274

Ayat ini menegaskan bahwa harta menjadi mulia bila diputar untuk memberi manfaat, bukan ditimbun atau dieksploitasi.

Infak adalah investasi abadi, bukan sekadar kehilangan.

Namun sebaliknya, Allah mengingatkan dengan keras tentang riba. Firman-Nya:

“ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰا۟ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ۚ…”
“Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata: sesungguhnya jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” QS. al-Baqarah: 275

Riba bukan sekadar praktik ekonomi, tetapi bentuk kezaliman yang melanggengkan ketimpangan. Ia memperkaya yang kaya, sekaligus menjerat yang miskin dalam lingkaran hutang. Tak heran jika ayat 279 memberi ultimatum keras:

“فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُوا۟ فَأۡذَنُوا۟ بِحَرۡبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ”
“Maka jika kamu tidak meninggalkan sisa riba, maka umumkanlah perang dengan Allah dan Rasul-Nya.”

Ini peringatan yang sangat tegas: riba adalah musuh keadilan sosial.

Di era kapitalisme global, praktik riba justru semakin mengakar.

Kartu kredit, pinjaman online, dan bunga bank kerap dianggap lumrah. Padahal, semua itu menggerus nilai kemanusiaan. Sistem yang seharusnya menolong justru menjerat.

Sebaliknya, Islam menawarkan sistem berbasis keadilan: jual beli yang sahih, bagi hasil, zakat, infak, dan sedekah.

Semua instrumen itu bukan sekadar ibadah ritual, melainkan solusi nyata bagi pemerataan kesejahteraan.

Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi ﷺ:
“لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ”
“Allah melaknat orang yang memakan riba, yang memberi riba, penulisnya, dan dua saksinya.” (HR. Muslim)

Karena itu, pilihan ada di tangan kita: apakah ingin harta yang berkah lewat infak dan muamalah yang halal, atau ingin harta yang penuh bencana karena riba?

Jalan menuju keberkahan bukan sekadar kerja keras, melainkan kerja ikhlas yang selaras dengan syariat. Harta yang halal, infak yang tulus, dan jauhnya diri dari riba adalah pondasi bagi ekonomi yang adil dan bermartabat.

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer