daidwijatmiko.com – Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah…
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat Rahmat-Nya, Inayah-Nya, karunia-Nya, Allah kumpulkan kita bersama pada hari yang mulia ini, di tempat rumah-Nya yang mulia ini untuk melaksanakan Ibadah Shalat Jumat, mudah-mudahan shalat Jumat kita dan apapun ibadah yang kita lakukan selama ini terutama pada Ramadhan kemarin diterima oleh Allah SWT dan mudah-mudahan semua ibadah-ibadah itu dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Amiin
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah…
Jika kita membuka lembaran sejarah, kita akan menemukan bagaimana para salaf sholih memandang Ramadhan, Pra Ramadhan dan Pasca Ramadhan. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata,
كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللّٰهَ تَعَالٰى سِتَةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَهُ سِتَةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَلَ مِنْهُمْ
“Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Allah menerima (amal-amal sholeh) yang mereka (kerjakan).”
Bayangkan bagaimana para salaf sholih sedemikian khawatir amal-amal yang sudah mereka lakukan di bulan Ramadhan tidak diterima oleh Allah SWT sehingga mereka sampai berdoa sampai enam bulan lamanya sesudah Ramadhan agar amal-amal ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Pertanyaannya Pernahkah kita khawatir apakah amal kita benar-benar diterima oleh Allah? Nabi Ibrahim dan Ismail saja memohon dengan penuh harap agar amal mereka diterima, padahal mereka sedang melaksanakan perintah langsung dari Rabb mereka.
Ketika membangun fondasi Ka’bah atas perintah Allah, Nabi Ibrahim dan Ismail tak hanya bekerja keras secara fisik. Mereka juga tak lepas dari berdoa dan menggantungkan harapan pada Allah. Allah Ta‘ala mengabadikan doa mereka dalam firman-Nya:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS Al-Baqarah: 127)
Doa ini bukan sekadar pengharapan, melainkan juga cerminan rasa rendah hati di hadapan Allah. Beliau-beliau sadar, meski beliau melakukan ibadah agung atas perintah langsung dari Rabb nya, itu belum menjamin diterimanya amal.