Perjalanan Suci dalam Semalam

Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam keadaan tidak tidur atau masih terjaga, bukan sebuah mimpi, dengan mengendarai Buraq.
“Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari)

daidwijatmiko.com

إِنَّ اْلحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِناَ. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضَلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ

فَلاَ هَا دِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّد وَ

عَلىَ اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَياَعِبَادَ اللهِ. أُصِيْكُمْ وَإَيّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Tuhan yang membuka pintu langit, yang menggenggam bumi dan seisinya.

Kita memuji-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri serta keburukan amal kita.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, manusia agung yang akhlaknya Al-Qur’an, yang jejak langkahnya adalah cahaya bagi umat sampai akhir zaman.

Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian: bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, karena takwa itulah bekal paling berharga saat kita pulang menghadap-Nya.

Ma’asyiral muslimin,

Kalau hari ini kita jujur bercermin, kita akan menemukan satu kenyataan yang pahit tetapi nyata. Umat Islam itu banyak, tapi terasa lemah.
Masjid penuh, tapi kejujuran kosong.
Doa panjang, tapi akhlak pendek.
Simbol Islam di mana-mana, tapi nilai Islam jarang terlihat.

Kita rajin shalat, tapi masih ringan menipu.
Kita fasih berzikir, tapi berat memaafkan.
Kita bangga disebut umat Muhammad, tapi enggan meneladani Muhammad ﷺ.

Masalah umat ini, jamaah sekalian, bukan semata ekonomi, bukan pula politik semata, tetapi masalah iman yang tidak lagi mengakar, ibadah yang tidak lagi berdampak.

Di sinilah Isra’ Mi‘raj hadir bukan sekadar cerita sejarah, tapi peringatan keras bagi umat.

Allah berfirman:

سُبْحَانَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam… (QS. Al-Isra’: 1)

Perjalanan Isra’ Mi‘raj itu terjadi bukan saat Nabi berada di puncak kejayaan, tapi justru saat beliau berada di titik paling menyakitkan dalam hidupnya. Dicaci, ditolak, dilempari batu, ditinggal wafat istri tercinta Khadijah dan pelindungnya Abu Thalib. Dunia seakan menutup semua pintu.

Namun apa yang Allah lakukan?
Bukan menurunkan harta.
Bukan mengirim pasukan.
Tapi mengangkat Nabi-Nya ke langit.

Pesannya jelas:
👉 Jika bumi mengecewakanmu, jangan tinggalkan langit.
👉 Jika manusia melukaimu, dekatilah Allah.

Ma’asyiral muslimin,

Dari Isra’ Mi‘raj itu Allah menghadiahkan satu ibadah yang tidak diturunkan di bumi, tetapi ditetapkan di langit: shalat.
Shalat adalah tiang agama.
Shalat adalah sumber kekuatan.
Shalat adalah penopang peradaban.

Rasulullah ﷺ bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

Pokok segala urusan adalah Islam dan tiangnya adalah shalat.

Kalau shalat kuat, iman kuat.
Kalau shalat benar, akhlak benar.
Kalau shalat hidup, umat hidup.

Tapi apa yang kita saksikan hari ini?
Shalat ditinggalkan.
Atau shalat dikerjakan, tapi tidak mencegah kemungkaran.
Shalat dilakukan, tapi tidak melahirkan kejujuran.

Allah sudah mengingatkan:

فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ

Datang generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu… (QS. Maryam: 59)

Inilah wajah umat akhir zaman: banyak jumlahnya, tapi seperti buih di lautan. Ringan, mudah diombang-ambingkan, tidak ditakuti lawan. Rasulullah ﷺ menyebut penyakitnya satu: wahn—cinta dunia dan takut mati.

Ma’asyiral muslimin,

Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa ibadah harus melahirkan perubahan.
Shalat harus membentuk akhlak.
Iman harus menumbuhkan tanggung jawab sosial.

Allah tidak akan mengubah nasib umat ini sampai umat ini mau mengubah dirinya sendiri.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

Maka mari kita mulai dari yang paling mendasar:

Perbaiki shalat kita

Luruskan niat kita

Bersihkan akhlak kita

Karena umat ini tidak akan bangkit dengan teriakan, tapi dengan iman yang hidup dan amal yang jujur.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ…

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer