Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Allah

Generasi Muda Diajak Meningkatkan Peran Dalam Memakmurkan Masjid
“Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR Ibnu Majah No 1690).

daidwijatmiko.com – Besok pada hari kiamat, manusia dikumpulkan dalam keadaan sangat dahsyat.

Matahari didekatkan, keringat bercucuran, dan tidak ada tempat berlindung.

Pada saat itulah Allah SWT memberikan keistimewaan berupa naungan khusus bagi hamba-hamba pilihan-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pertama, pemimpin yang adil. Keadilan adalah perintah langsung dari Allah SWT.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)

Kedua, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Di tengah kuatnya godaan, istiqamah di masa muda merupakan amal yang sangat mulia.

Ketiga, orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”
(QS. At-Taubah: 18)

Keempat, dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah atas dasar iman, bukan kepentingan dunia.

Kelima, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita cantik dan berkedudukan, lalu ia berkata:

إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ
“Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”

Keenam, orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sebagaimana firman Allah:

وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Jika kamu menyembunyikan sedekahmu dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 271)

Ketujuh, orang yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga meneteskan air mata, sebagai bukti keikhlasan dan rasa takut kepada-Nya.

فَاِ نَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتٰى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَآءَ اِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِيْنَ
fa innaka laa tusmi’ul-mautaa wa laa tusmi’ush-shummad-du’aaa-a izaa wallau mudbiriin

“Maka sungguh, engkau tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka berpaling ke belakang.”

وَمَاۤ اَنْتَ بِهٰدِ الْعُمْيِ عَنْ ضَلٰلَتِهِمْ ۗ اِنْ تُسْمِعُ اِلَّا مَنْ يُّؤْمِنُ بِاٰ يٰتِنَا فَهُمْ مُّسْلِمُوْنَ
wa maaa angta bihaadil-‘umyi ‘ang dholaalatihim, ing tusmi’u illaa may yu-minu bi-aayaatinaa fa hum muslimuun

“Dan engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta dari kesesatannya. Dan engkau tidak dapat memperdengarkan kecuali kepada manusia-manusia yang beriman dengan ayat-ayat Kami, maka mereka itulah manusia-manusia yang berserah diri.”

QS. Ar-Rum 30: Ayat 52,53

Berita Terkait

Berita Terkini

Berita Populer