daidwijatmiko.com – Dalam kehidupan yang penuh hiruk pikuk ambisi dan perbandingan sosial, seringkali manusia merasa kurang dan tidak puas.
Padahal, Islam mengajarkan prinsip yang sangat sederhana namun dalam maknanya: “Selalu melihat ke bawah dalam urusan dunia, dan melihat ke atas dalam urusan akhirat.” Inilah prinsip syukur yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَانْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam hal dunia), dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Karena itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan cara pandang yang bijaksana dalam menyikapi rezeki, kehidupan, dan segala kenikmatan duniawi. Dengan melihat ke bawah, kita akan menyadari bahwa banyak orang lain yang mungkin tidak seberuntung kita dalam hal kesehatan, ekonomi, tempat tinggal, atau kesempatan pendidikan. Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa syukur, bukan keluhan.
Al-Qur’an Mendorong untuk Bersyukur
Al-Qur’an juga berulang kali mengingatkan agar manusia tidak lalai dalam bersyukur. Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan hanya ekspresi lisan, tapi juga bentuk penghargaan terhadap nikmat dengan menggunakannya dalam kebaikan, serta tidak terus menerus mengeluh karena apa yang tidak kita miliki.
Mental yang Sehat, Jiwa yang Tenang
Dampak positif dari prinsip ini tidak hanya pada aspek spiritual, tetapi juga pada kesehatan mental. Menurut banyak psikolog, orang yang senantiasa bersyukur akan memiliki tingkat stres yang lebih rendah, tidur lebih nyenyak, dan hubungan sosial yang lebih harmonis.
Masyarakat modern yang terus membandingkan diri dengan orang lain melalui media sosial, justru rentan mengalami kecemasan dan depresi. Padahal, Islam sudah sejak dahulu mengajarkan bahwa melihat ke bawah adalah solusi agar hati tetap damai.
Penutup
Hidup tidak akan pernah sempurna menurut ukuran dunia. Tapi dengan pandangan yang tepat, yakni selalu melihat ke bawah dalam hal dunia, kita akan lebih mudah menyadari betapa banyak nikmat yang sudah kita miliki.
Mari kita tanamkan dalam diri, keluarga, dan anak-anak kita untuk tidak terjebak dalam gemerlap dunia yang semu. Karena kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita miliki, tapi pada bagaimana kita mensyukuri apa yang telah Allah titipkan.
Wallahu a’lam bishawab.